Arah angin, tinggi kolom erupsi, ukuran partikel, serta jarak dari kawah menjadi faktor yang menentukan wilayah mana yang mendapat paparan material paling besar.
Kapan Vegetasi Pulau Sertung Kembali Hijau?
Sertung sendiri berada dalam posisi yang sangat dekat dengan Anak Krakatau sehingga material yang sampai ke pulau tersebut kemungkinan bukan hanya abu vulkanik berukuran sangat halus.
Material yang lebih kasar seperti tefra dan lapili juga dapat jatuh di wilayah yang berdekatan dengan pusat erupsi. Ketebalan dan karakter endapan inilah yang kemudian dapat memengaruhi kondisi vegetasi.
Baca Juga:Identitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan PemerintahPrabowo Kritik Dinamika Geopolitik Global Kerap Jadi Instrumen Perdagangan Internasional Sebagai Alat Penekan
Perubahan Sertung setelah erupsi menjadi fenomena yang menarik karena material vulkanik baru pada dasarnya merupakan bahan geologi yang belum berkembang menjadi tanah.
Abu, lapili, fragmen batuan, mineral, dan gelas vulkanik yang jatuh ke permukaan kemudian akan mengalami proses pelapukan. Air hujan, perubahan suhu, aktivitas mikroorganisme, serta akumulasi bahan organik secara perlahan dapat mengubah material tersebut menjadi lingkungan yang kembali dapat mendukung pertumbuhan tanaman.
Proses pemulihan vegetasi Sertung diperkirakan tidak dapat langsung diketahui hanya dari satu citra satelit. Pemantauan menggunakan citra Sentinel-2 secara berkala dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana permukaan pulau berubah dari waktu ke waktu.
Jika penurunan sinyal vegetasi terutama disebabkan oleh lapisan abu yang menutupi daun, nilai NDVI dapat meningkat kembali setelah hujan membersihkan permukaan vegetasi dan tanaman menghasilkan tunas atau daun baru. Namun, jika endapan material cukup tebal dan menyebabkan kerusakan fisik yang berat, pemulihan dapat berlangsung lebih lama.
