Selain bencana erupsi Gunung Anak Krakatau, dia juga melaporkan terkait gempa bumi Flores, kebakaran hutan dan lahan di enam provinsi prioritas, serta progres rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh dan Sumatra.
Dilaporkan Suharyanto, gempa berkekuatan M 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada pertengahan Agustus lalu kini mulai menunjukkan tren penurunan aktivitas. BMKG mencatat hingga 7 September 2026 telah terjadi 13.156 kali gempa susulan, dengan magnitudo terbesar 6,2. Frekuensi gempa susulan dilaporkan menurun setiap minggunya.
Akibatnya, 48 jiwa meninggal dunia, 1.752 orang luka-luka, 72.864 jiwa masih mengungsi, 98.986 unit rumah rusak, dan 3.266 unit fasilitas umum rusak. Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur menjadi wilayah dengan dampak paling signifikan, namun jumlah pengungsi mulai menurun seiring banyaknya warga yang kembali ke rumah masing-masing untuk melakukan perbaikan.
Baca Juga:Identitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan PemerintahPrabowo Kritik Dinamika Geopolitik Global Kerap Jadi Instrumen Perdagangan Internasional Sebagai Alat Penekan
Distribusi logistik mencapai 2.142 ton dengan tingkat distribusi 98,39 persen. Sebanyak 115 sortie pesawat dan 2 kapal dikerahkan. Per hari ini, Posko Dukungan Logistik Nasional di Bandara Halim telah ditutup dan bantuan selanjutnya dialihkan ke Gudang Logistik BNPB di Jati Asih, Kota Bekasi.
Pemulihan layanan dasar berjalan cepat. Jaringan listrik dan telekomunikasi pulih 100 persen, seluruh 56 SPBU di Pulau Flores kembali beroperasi, dan rumah sakit lapangan telah berdiri.
“Kami juga mendirikan tenda darurat sebagai sekolah sementara sehingga tidak ada anak-anak yang tidak bersekolah,” ungkap Suharyanto.
BNPB, kata dia, saat ini fokus pada verifikasi data kerusakan rumah. Untuk rumah rusak ringan diberikan bantuan stimulan Rp15 juta, rusak sedang Rp30 juta, sementara untuk rumah rusak berat akan dibangun hunian sementara atau diberikan Dana Tunggu Hunian sebelum dibangunkan rumah baru tipe 36.
Update Penanganan Karhutla
Di sisi lain, terkait kebakaran hutan dan lahan masih menjadi tantangan besar. Per 6 September 2026, total lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 72.009,10 hektare, dan 939,45 hektare di antaranya masih belum padam. Dia merinci, di Kalimantan Barat (97,8 ha), Riau (283,35 ha), Kalimantan Selatan (116,3 ha), Kalimantan Tengah (91,3 ha), Sumatra Selatan (341,7 ha), dan Jambi (9 ha).
Operasi pemadaman di enam provinsi prioritas melibatkan 43.481 personel gabungan dari BNPB, BPBD, TNI-Polri, Masyarakat Peduli Api, Manggala Agni, dan relawan.
