KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, memaparkan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Dari data tercatat abu vulkanik menyebar menjauhi area Gunung Anak Krakatau, namun dipastikan tidak ada korban jiwa.
“Wilayah terdampak meliputi tiga kabupaten dan 15 kecamatan, dengan paparan abu vulkanik dirasakan hingga DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. Hingga saat ini belum ada satupun pemerintah kabupaten maupun provinsi terdampak yang menetapkan status kedaruratan,” kata Suharyanto dalam keterangan resminya, Senin (7/9/2026).
Dia mengatakan, ketiadaan status kedaruratan daerah tidak menghambat pemerintah pusat memberikan bantuan. Koordinasi dengan pemerintah setempat, BMKG, dan instansi terkait lainnya pun terus dilakukan sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga:Identitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan PemerintahPrabowo Kritik Dinamika Geopolitik Global Kerap Jadi Instrumen Perdagangan Internasional Sebagai Alat Penekan
Menurut dia, dampak erupsi cukup signifikan terhadap penerbangan, dimana delapan bandara terpaksa berhenti beroperasi, termasuk Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma. Abu vulkanik juga mengganggu aktivitas masyarakat, sekolah, dan nelayan, dengan dampak kesehtan berupa iritasi mata, gangguan pernapasan, dan iritasi kulit.
“BNPB menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) Hybrid untuk membantu meluruhkan abu vulkanik. Pesawat beroperasi dari Pondok Cabe dan dilaksanakan sampai malam hari,” tutur Suharyanto.
Apa Itu OMC Hybrid?
Suharyanto menerangkan, OMC Hybrid menggunakan dua teknik. Saat tersedia awan dilakukan stimulasi hujan, sedangkan ketika tidak terdapat awan, petugas menyebarkan water mist untuk mengurai dan mengikat partikel abu serta polutan berbahaya.
BNPB, menurut Suharyanto, telah memindahkan pesawat OMC dari Kalimantan ke Semarang sebagai alternatif. Terlebih, Badan Geologi memastikan bahwa berdasarkan evaluasi morfologi saat ini, tubuh Gunung Anak Krakatau belum berpotensi runtuh dalam skala yang dapat memicu tsunami seperti tahun 2018.
“Diharapkan operasi modifikasi cuaca yang dilakukan sejak hari ini hingga nanti malam dapat membantu mempercepat peluruhan abu vulkanik. Hari ini, alhamdulillah, sudah bisa karena Kertajati di Majalengka sudah terbuka. Jadi kita mungkin nanti dari situ,” ungkap Suharyanto.
Update Penanganan Gempa NTT
Diketahui, Suharyanto melaporkan perkembangan penanganan empat bencana besar yang terjadi secara bersamaan di Indonesia dalam Rapat Terbatas yang dipimpin Presiden RI, Prabowo Subianto, di Istana Merdeka, hari ini.
