Dua pemimpin umat Yahudi di Inggris itu juga menyebut pernyataan Netanyahu tidak mewakili aspirasi para Yahudi yang tinggal di Inggris. Menurut mereka, PM Israel ini sama sekali tak mewakili kepentingan mereka.
“Perdana Menteri Netanyahu tidak mewakili Yahudi Inggris. Kata-katanya tidak mewakili kami,” tambah mereka.
Kecaman juga datang dari mantan pejabat Inggris, Gavin Barwell. Ia adalah mantan kepala staf Downing Street pada masa PM Theresa May. Menurutnya, apa yang disampaikan Netanyahu adalah “Islamofobia terang-terangan”.
Baca Juga:Korban Tewas Gempa M 7,4 Kolombia Kini 111 Orang 1.575 Rumah RusakPemkab Cirebon Resmikan Fasilitas KDKMP: 116 Koperasi Desa Siap Beroperasi Gerakkan Ekonomi Kerakyatan
“Semoga semua orang sekarang akan melepaskan kepura-puraan yang masih dipegang teguh oleh sebagian orang bahwa orang ini [Netanyahu] adalah teman Inggris,” tulis Barwell di X.
Secara historis, Inggris merupakan sekutu dekat Israel. Inggris bahkan berperan penting dalam pembentukan negara Israel di tanah Palestina. Deklarasi Balfour yang dirilis pada 1917 oleh pejabat Inggris Arthur Balfour hingga kini masih jadi salah satu dasar argumen dalam klaim hak pendirian negara Israel di tanah Palestina.
Akan tetapi, hubungan dua negara itu belakangan merenggang, terutama sejak Israel melancarkan operasi genosida di Jalur Gaza pada 2023. Ketegangan ini kemudian meningkat saat Partai Buruh berkuasa di Inggris pada 2024.
Mantan PM Inggris dari Partai Buruh Keir Starmer saat itu menghentikan pembicaraan perdagangan bebas dengan Israel. Pemerintahannya juga menangguhkan beberapa lisensi ekspor senjata negara Zionis itu ke Inggris.
Sejak itu, Inggris juga bergabung dengan negara lain macam Prancis yang menjatuhkan sanksi kepada pejabat kabinet sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich. Tahun 2025, Inggris menyatakan pengakuannya atas negara Palestina.
PM Inggris yang kini berkuasa, Andy Burnham, baru-baru ini juga meminta maaf atas tanggapan awal Partai Buruh terhadap genosida di Gaza. Burnham menyebut partainya telah terlalu lambat dalam menyerukan gencatan senjata.
“Itulah mengapa kita perlu berbuat lebih banyak, termasuk mempertimbangkan sanksi lebih lanjut terhadap mereka yang terlibat dalam kekerasan di Gaza, tetapi juga mempertimbangkan langkah-langkah untuk melarang perdagangan barang dengan permukiman ilegal,” kata Burnham.
