Korut Belum Respons Upaya Indonesia Jadi Mediator dengan Korsel

Korea Selatan dan Korea Utara
Korea Selatan dan Korea Utara
0 Komentar

UPAYA Presiden Indonesia Prabowo Subianto untuk membantu membuka kembali komunikasi antara Korea Selatan dan Korea Utara menghadapi tantangan setelah Pyongyang disebut tidak menanggapi usulan dialog tersebut.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengatakan bahwa Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung meminta dukungan Indonesia untuk membantu membuka komunikasi dengan Korea Utara.

“Dalam kunjungan terakhir saya ke Korea Selatan, presiden mereka bertanya apakah saya bisa mengunjungi Korea Utara untuk membuka semacam dialog. Saya menjawab, dengan segala hormat dan kesediaan, jika Anda meminta saya, saya akan pergi,” ujar Prabowo.

Baca Juga:Kebakaran Rumah di Cirebon, Ayah dan Bayi Laki-laki Usia 6 Bulan Ditemukan TewasKasus Kematian Sutrimo: Fakta, Dugaan Kepala Urusan Rumah Tangga Febrie, dan Perkembangan Penyelidikan

Pemerintah Korea Selatan merespons jika Indonesia, bersama negara lain yang memiliki hubungan baik dengan kedua pihak, dapat memainkan peran konstruktif dalam mendorong perdamaian di Semenanjung Korea.

“Pemerintah percaya bahwa negara-negara yang memiliki hubungan baik dengan Korea Selatan dan Korea Utara, termasuk Indonesia, dapat memainkan peran konstruktif dalam mencapai hidup berdampingan secara damai di Semenanjung Korea,” ujar seorang pejabat dari Blue House dikutip Korea Joongang Daily, Sabtu (1/8/2026).

Namun, di tengah hubungan Seoul-Pyongyang yang masih membeku, ajakan untuk membuka jalur komunikasi belum mendapat respons positif dari pemerintah Korea Utara.

Alasan Korut Tolak Permintaan Indonesia jadi Mediator

Pemerintahan Korea Selatan di bawah kepemimpinan Presiden Lee Jae Myung tetap memilih pendekatan keterlibatan dan dialog dengan Pyongyang. Lee mengakui bahwa upaya membangun kembali hubungan dengan Korea Utara menghadapi tantangan besar karena pemerintah Pyongyang berulang kali menolak ajakan dialog dari Seoul.

“Rasanya seperti berteriak ke dalam kehampaan tanpa gaung. Tetapi perdamaian dan hidup berdampingan tetap menjadi tugas penting. Betapapun sulitnya, kita harus terus menerapkan kebijakan tersebut,” ucap Lee dikutip Reuters (5/8/2026).

Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun mengatakan pembicaraan multilateral yang melibatkan Korea Utara, Amerika Serikat, dan China saat ini masih sulit dilakukan karena kebuntuan diplomatik dengan Pyongyang.

Ia menyebut isu Korea Utara akan menjadi salah satu agenda utama dalam pembahasannya dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi.

Baca Juga:Prabowo ke TNI, Polri, dan Jaksa: Bintangmu dari Uang Rakyat!Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut Muncul

Cho juga mengungkapkan bahwa Indonesia sebelumnya sempat berupaya membantu membuka jalur dialog antara kedua Korea, tetapi Korea Utara tidak menanggapi usulan tersebut.

0 Komentar