Catur: Dari Ruang Raja ke Lapak Tukang Becak

Ilustrasi Catur
Ilustrasi Catur
0 Komentar

JELANG Maghrib di Cirebon, obrolan mengalir bersama Didi Isbandi, Sekretaris Percasi Kabupaten Cirebon, selusuri jejak catur yang melampaui sekadar permainan papan hitam-putih. Baginya, catur adalah sebuah perjalanan panjang manusia dalam memahami strategi, kekuasaan, dan nasib.

Sejarah catur memang bermula dari Chaturanga di India abad ke-6, sebuah simulasi perang yang melibatkan empat divisi militer: infanteri, kavaleri, gajah, dan kereta perang. Permainan ini kemudian melintasi Jalur Sutra, menyeberangi Persia, hingga akhirnya menemukan bentuk modernnya di Eropa. Namun, catur tak pernah berhenti sebagai hiburan belaka. Ia kerap ditarik ke dalam pusaran kekuasaan.

Di Uni Soviet, catur adalah instrumen negara yang masif. Pemerintah Soviet menyuntikkan dana besar untuk menjadikannya alat pendidikan wajib sekaligus senjata propaganda. Di sana, catur dipandang sebagai pembuktian supremasi intelektual. Keberhasilan seorang pecatur Soviet di panggung internasional adalah legitimasi bagi kekuatan ideologi negara tersebut. Catur membentuk warga negara yang logis, terstruktur, dan memiliki perencanaan jangka panjang—kualitas yang dianggap ideal bagi masyarakat sosialis.

Baca Juga:Prabowo ke TNI, Polri, dan Jaksa: Bintangmu dari Uang Rakyat!Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut Muncul

Namun, potret catur di Indonesia justru menampilkan wajah yang jauh berbeda, bahkan terkesan paradoks. Jika di pusat-pusat kekuasaan dunia catur sering dikaitkan dengan kelas elit dan akademisi, di Indonesia ia mengalami “demokratisasi” yang liar di jalanan.

Di berbagai sudut Cirebon, dari pos ronda hingga pangkalan becak, papan catur plastik yang lusuh adalah pemandangan lazim. Di sini, catur bukan soal teori pembukaan yang kaku atau durasi jam turnamen yang mahal. Ia adalah ruang temu yang egaliter. Seorang tukang becak dapat duduk berhadapan dengan siapa saja, memelototi papan, dan bertarung dengan logika tanpa dibatasi sekat kelas sosial.

Catur jalanan di Indonesia telah menjadi teater intelektual yang murah meriah. Di atas papan 64 kotak itu, mereka yang sering terpinggirkan oleh struktur ekonomi justru menemukan ruang untuk berkuasa. Saat bidak lawan tumbang lewat langkah yang tak terduga, ada kepuasan batin yang dirasakan. Mereka membuktikan bahwa strategi bukanlah hak eksklusif mereka yang duduk di menara gading.

0 Komentar