Laporan The New York Times Ungkap Upaya Israel Rekrut Mahmoud Ahmadinejad Pemimpin Baru Teheran

Mahmoud Ahmadinejad
Mahmoud Ahmadinejad
0 Komentar

LAPORAN mengejutkan dari The New York Times mengungkapkan upaya bertahun-tahun Israel untuk merekrut dan menempatkan mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, sebagai pemimpin baru di Teheran. Kampanye rahasia ini bertujuan menggulingkan rezim saat ini melalui intervensi asing dan kerja sama intelijen tingkat tinggi.

Menurut laporan tersebut, operasi ini mencapai puncaknya pada hari pertama serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran pada Februari lalu. Pasukan khusus dilaporkan menyerang pengawal Ahmadinejad untuk membebaskannya dari tahanan rumah.

Satu mobil kemudian melarikan mantan presiden tersebut ke rumah aman (safe house). Namun, Ahmadinejad dikabarkan meninggalkan lokasi tersebut setelah merasa kecewa dengan rencana detail Israel untuk menempatkannya di tampuk kekuasaan.

Pertemuan Rahasia dengan Bos Mossad

Baca Juga:Prabowo ke TNI, Polri, dan Jaksa: Bintangmu dari Uang Rakyat!Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut Muncul

Laporan itu merinci bahwa kontak antara Israel dan Ahmadinejad melibatkan pertemuan langsung dengan Kepala Mossad, David Barnea. Pertemuan tersebut terjadi di sela-sela konferensi akademik tentang perubahan iklim di Budapest, Hungaria, pada tahun 2024.

Rektor Universitas Layanan Publik Ludovika, Gergely Deli, dilaporkan diminta oleh pejabat senior Hungaria untuk mengundang Ahmadinejad. Undangan tersebut hanyalah kedok agar mantan presiden yang dikenal dengan retorika anti-Holocaust itu dapat bertemu dengan agen-agen Mossad tanpa terdeteksi oleh intelijen Iran.

Masyarakat Arab dan Timur Tengah

Selain di Hungaria, kontak awal dilaporkan telah terjadi sejak tahun 2023 saat Ahmadinejad melakukan perjalanan ke Guatemala. Pada Juni 2025, ia kembali bertemu agen Israel di Budapest, hanya beberapa hari sebelum Israel melancarkan kampanye serangan udara selama 12 hari terhadap rezim Iran.

Transformasi dari Garis Keras ke Oposisi

Ahmadinejad, yang menjabat sebagai presiden pada 2005-2013, dulu dikenal sebagai tokoh konservatif radikal yang menyerukan penghancuran Israel. Namun, setelah dilarang mencalonkan diri dalam beberapa pemilu terakhir, ia bertransformasi menjadi kritikus vokal terhadap Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Seorang rekan dekatnya mengungkapkan kepada The Times bahwa Ahmadinejad akhirnya menyadari bahwa ia tidak bisa kembali berkuasa di bawah sistem saat ini. Ia mulai melihat intervensi asing sebagai satu-satunya jalan kembali ke kepemimpinan. Dalam visi barunya, Ahmadinejad mengeklaim dirinya sebagai reformis dan menjanjikan bahwa Iran akan mengakui kedaulatan Israel jika ia berkuasa.

0 Komentar