AMERIKA Serikat dinilai tengah terlelap atau terdistraksi oleh hal-hal sepele, sementara Tiongkok melesat cepat menuju masa depan. Realitas ini diungkapkan oleh Evan Osnos dalam laporan mendalam sebanyak 12 halaman untuk The New Yorker yang bertajuk The Future, Made in China.
Laporan tersebut menyoroti bagaimana Tiongkok memanfaatkan celah dari kebijakan perdagangan, imigrasi, dan anggaran Presiden Trump untuk memperkuat posisinya. Hal ini menjadi krusial karena Tiongkok berpotensi mengalahkan AS di berbagai lini depan, termasuk dalam upaya rekayasa penyembuhan kanker.
Investasi Negara dan Eksodus Talenta
Osnos menulis bahwa mundurnya pengaruh Amerika terjadi tepat saat investasi negara, kebijakan industri, dan perencanaan diplomatik Tiongkok selama puluhan tahun mulai membuahkan hasil. Salah satu poin kritis yang disoroti ialah sektor bioteknologi.
Baca Juga:Kebakaran Rumah di Cirebon, Ayah dan Bayi Laki-laki Usia 6 Bulan Ditemukan TewasKasus Kematian Sutrimo: Fakta, Dugaan Kepala Urusan Rumah Tangga Febrie, dan Perkembangan Penyelidikan
Seorang eksekutif Amerika mengungkapkan kekhawatirannya bahwa bioteknologi akan menjadi medan perang berikutnya setelah kendaraan listrik (EV). “Kita telah menakut-nakuti semua talenta hebat ini untuk kembali ke Tiongkok. Jika Anda melihat orang-orang yang mengerjakan ini, mereka dulunya bekerja untuk raksasa farmasi Barat atau memimpin departemen universitas ternama,” ujarnya kepada Osnos.
Dominasi dalam Angka
Data menunjukkan dominasi Tiongkok yang luar biasa di sektor industri masa depan:
- Tiongkok memproduksi 70% drone, kendaraan listrik, baterai lithium-ion, dan sel surya dunia.
- Negara ini mengerahkan lebih banyak robot industri dibandingkan gabungan seluruh dunia.
- Dalam bidang medis, Tiongkok melampaui Amerika Serikat dalam jumlah uji klinis terdaftar.
- Kapasitas pembuatan kapal Tiongkok mencapai 200 kali lipat dari kapasitas Amerika Serikat.
Realitas High-Tech State dan Pengawasan AI
Kembali ke Beijing setelah meninggalkannya pada 2013, Osnos merasakan perubahan suasana yang signifikan. Ibu kota Tiongkok kini jauh lebih tenang karena dominasi kendaraan listrik yang senyap dan ekosistem e-commerce yang membuat warga jarang keluar rumah. Transaksi harian dilakukan melalui kode QR di WeChat dan Alipay, yang secara terus-menerus memberi makan algoritma dengan data pergerakan dan preferensi warga.
Namun, kemajuan ini dibarengi dengan sistem pengawasan yang sangat ketat. Di suatu pameran AI di Beijing, Osnos mencoba kios yang melakukan X-ray emosional dengan mengukur gerakan mikro pada wajah.
