Zuly mengkritik dalih kepolisian yang menyebut keberadaan intel tersebut adalah untuk “mengamankan” mahasiswa. menurutnya, tindakan itu justru memicu provokasi.
“Niatnya, bahasa polisi, untuk mengamankan mahasiswa. Mahasiswa tidak suka dengan bahasa mengamankan itu. Harusnya kalau sudah sampai kampus ya dilihat saja dari jauh. Tidak usah ikut ke kampus,” tegas Zuly.
Proses mediasi yang berlangsung sejak 18.00 WIB itu akhirnya selesai dengan damai pada pukul 20.00 WIB. Zuly pun mengapresiasi sikap legawa Polda DIY yang mau mengakui kekeliruan prosedur tersebut.
Baca Juga:Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut MunculAmanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 Juni
“Bagus. Harus minta maaf juga, karena kan berkeliaran begitu. Mahasiswa pasti marah. Saya sebagai pimpinan saja sebenarnya jengkel. Tapi karena saya pimpinan, saya bilang sudah, ini harus kamu minta maaf,” ungkap Zuly.
UMY Tak Toleransi Intel Berkeliaran di Kampus
Zuly menegaskan bahwa pihak UMY tidak akan menoleransi adanya aparat intelijen yang berkeliaran di area kampus tanpa koordinasi resmi. Ia meminta kepolisian menggunakan jalur birokrasi yang formal jika ada keperluan di dalam kampus.
“Kalau memang ada keperluan, bikin surat ke kampus. Nanti ketemu pimpinan. Kalau mau ketemu mahasiswa, nanti saya hubungkan mahasiswa. Dialog baik-baik tidak ada masalah,” cetus Zuly.
“Memang tidak usah pakai intel-intelan. Kalau ada kebutuhan, datang saja baik-baik, bicara dengan saya. Jangan bergerak-gerik yang mencurigakan karena itu pasti menimbulkan amarah dan kecurigaan di tingkat mahasiswa,” tutup Zuly.
