PEMERINTAH Amerika Serikat memprovokasi dengan meluncurkan serangan pesawat nirawak (drone) ke Bandara Internasional Kuwait demi menjual sistem pertahanan udara anti-drone miliknya ke negara tersebut, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei.
Sebelumnya, Rabu (3/6), Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kuwait Saud Al-Atwan menyatakan terminal penumpang Bandara Internasional Kuwait mengalami kerusakan parah akibat serangan drone.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Kuwait Abdullah Al-Sanad menyebutkan lebih dari 60 orang terluka dalam insiden tersebut, termasuk penumpang dan staf bandara.
Baca Juga:Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut MunculAmanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 Juni
“Kepingan-kepingan teka teki ini mulai terungkap dengan sangat cepat. Mereka melakukan operasi pengelabuan (false-flag) dengan mengerahkan drone tiruan Lucas untuk menyerang Bandara Kuwait, menciptakan alasan sempurna untuk memasarkan sistem pertahanan udara anti-drone buatan Powerus dengan dalih melindungi diri dari serangan Iran. Sangat menguntungkan!” ujar Baqaei melalui unggahan di media sosial X pada Selasa (9/6).
Sementara itu, Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Hossein Mohebbi sebelumnya menyatakan bahwa kehancuran di Bandara Internasional Kuwait merupakan akibat dari kesalahan operasional pada sistem pertahanan udara Patriot.
Mohebbi menegaskan militer Iran tidak menembakkan rudal apa pun ke arah terminal bandara tersebut.
