“Saya tidak akan menghindar dari satu penyelidikan atau lainnya dan akan terus berdiri dengan bangga di samping para pejuang kami.” ujar Ben Gvir memberikan tanggapan dikutip Reuters, Selasa(9/6/2026).
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni sebelumnya juga terlihat bereaksi keras setelah video tersebut mencuat di media sosial. Ia menyebut perlakuan terhadap para aktivis tidak dapat diterima dan menuntut permintaan maaf dari Israel.
Hubungan Italia dengan Israel sendiri diketahui mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir, dari awalnya sekutu kuat menjadi lebih kritis terhadap kebijakan Israel di Gaza, Tepi Barat, dan Lebanon, termasuk dukungan terhadap sanksi Uni Eropa terhadap pemukim Israel yang dianggap melakukan kekerasan.
Baca Juga:Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut MunculAmanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 Juni
Di sisi lain, pihak penyelenggara GSF menuduh bahwa beberapa aktivis yang dipulangkan mengalami luka-luka dan bahkan mengklaim adanya dugaan kekerasan serius, termasuk laporan minimal 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan.
Namun, Israel melalui Israel Prison Service membantah keras seluruh tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa para tahanan diperlakukan sesuai hukum internasional serta tetap mendapatkan hak-hak dasar dan layanan medis yang diperlukan.
“(Tuduhan tersebut) sama sekali tidak memiliki dasar faktual,” bantah IPS dikutip The Times of Israel, Senin (8/6/2026).
Selain Italia, Prancis juga disebut telah mengambil langkah serupa dengan membuka penyelidikan terkait dugaan kejahatan perang dan penyiksaan terhadap warga negaranya yang ikut dalam armada Global Sumud Flotilla.
