3 Tahun Konflik dengan Israel, Tradisi Kurban Iduladha di Gaza Kini Tinggal Kenangan

Gaza
Gaza
0 Komentar

SEBUAH sudut Jalur Gaza yang dipenuhi reruntuhan dan luka perang, Ahmed Nashwan hanya bisa mengenang Iduladha yang dulu dirayakan dengan tawa keluarga dan aroma daging kurban.

Bagi banyak keluarga Palestina, hari raya yang identik dengan kebersamaan dan penyembelihan hewan kurban kini berubah menjadi pengingat pahit akan perang dan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.

Ahmed Nashwan mengaku sudah tiga tahun terakhir tidak lagi menjalankan tradisi memilih hewan kurban bersama keluarga besarnya menjelang Iduladha.

Baca Juga:Luhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RIFatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas Mencuat

“Sebelum perang, Iduladha merupakan momen penuh kebahagiaan bagi kami,” kata Nashwan dilansir Xinhua, Selasa (26/5).

“Kami biasanya berkumpul sebagai keluarga untuk memilih hewan kurban, mempersiapkan hari raya, dan membagikan daging kepada kerabat serta keluarga miskin,” tambahnya.

Namun, menurut dia, kondisi kini jauh berbeda. Iduladha yang biasanya dirayakan selama empat hari itu kehilangan maknanya akibat sulitnya akses pangan dan tidak tersedianya ternak di Gaza. “Kini, hari raya itu bagi kami hanya tinggal doa dan kenangan,” ucap Nashwan.

“Karena tidak ada ternak yang masuk ke Gaza, dan sebagian besar orang hampir tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari,” lanjutnya.

Meski gencatan senjata antara Israel dan Hamas sempat tercapai pada Oktober 2025, pembatasan ketat di wilayah Gaza masih terus berlangsung.

Arus barang, termasuk hewan ternak seperti domba dan sapi yang biasa digunakan untuk kurban, sangat terbatas sehingga stok di pasaran hampir tidak tersedia.

Direktur Kamar Dagang Gaza, Maher al-Tabbaa, mengatakan harga hewan kurban melonjak drastis sejak perang pecah. Jika sebelum konflik seekor hewan kurban dijual sekitar 500 dolar AS, kini harganya mencapai 6.000 hingga 7.000 dolar AS.

Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab

Kondisi itu membuat banyak keluarga tidak lagi mampu membeli hewan kurban. Mohammed al-Hissi, warga Kota Gaza yang memiliki empat anak, mengatakan Iduladha dulunya menjadi momen paling membahagiakan bagi keluarganya.

“Iduladha dulunya selalu menjadi salah satu masa paling membahagiakan bagi keluarga kami. Anak-anak saya biasanya bangun pagi, mengenakan pakaian baru, dan menemani saya mengunjungi kerabat setelah kami membagikan daging,” katanya.

“Tetapi saat ini, semuanya telah berubah akibat perang dan memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza,” jelasnya.

0 Komentar