“Sebagian besar keluarga tidak lagi dapat memikirkan untuk membeli hewan kurban karena harganya sangat tinggi dan masyarakat telah kehilangan pendapatan serta rumah mereka,” lanjutnya.
Cerita serupa disampaikan Mohammed Shallah, warga Khan Younis di Gaza Selatan. Pemuda berusia 22 tahun itu mengenang tradisi Iduladha bersama ayahnya yang tewas akibat serangan udara Israel.
“Dulu, kami pergi bersama ayah dan kerabat saya untuk memilih hewan kurban,” kata Shallah kepada Xinhua.
Baca Juga:Luhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RIFatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas Mencuat
Kini, menurut dia, tradisi tersebut sudah tidak mungkin lagi dilakukan. “Bahkan jika ternak masih bisa ditemukan, harganya sangat mahal,” katanya. “Saya tidak lagi mampu membeli hewan kurban sama sekali,” jelasnya.
Pedagang ternak Salah Afana mengatakan harga ternak naik berkali-kali lipat akibat perang, sementara daya beli masyarakat terus menurun. Ia juga menyebut banyak ternak mati akibat serangan udara, kekurangan pakan, dan lumpuhnya layanan kesehatan hewan.
“Banyak hewan mati karena serangan udara, kekurangan pakan, dan kolapsnya layanan veteriner. Pada saat bersamaan, tidak ada ternak yang masuk ke Gaza akibat penutupan perlintasan,” ujarnya.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertanian Gaza, Raafat Asaliya, mengatakan sebelum perang wilayah tersebut biasanya mengimpor puluhan ribu sapi dan domba setiap tahun menjelang Iduladha. Namun sejak perang dan penutupan perlintasan terjadi, impor ternak berhenti total. “Dengan adanya perang dan penutupan perlintasan, impor berhenti total,” kata Asaliya.
Ia menambahkan banyak peternakan, kandang, dan gudang pakan hancur selama konflik berlangsung. Maher al-Tabbaa menyebut warga Gaza kini telah tiga tahun berturut-turut menjalani Iduladha tanpa tradisi kurban. “Tidak ada yang tahu berapa banyak lagi Iduladha tanpa kurban yang harus dijalani warga Gaza,” pungkasnya.
