Media Soroti Trump Kalah Lawan Iran, Warga AS Justru Saling Ribut

Donald Trump (AP)
Donald Trump (AP)
0 Komentar

Namun ia menegaskan bahwa syarat-syarat yang dibahas saat ini pada dasarnya adalah syarat Iran, dan Amerika keluar dari perang dalam posisi terhina.

Sementara itu, pemimpin Demokrat di DPR AS, Hakeem Jeffries, menyalahkan Partai Republik atas perang ceroboh dan pilihan sendiri tersebut.

Ia menilai dampak ekonominya—khususnya kenaikan harga bahan bakar—kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat Amerika.

Baca Juga:Luhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RIFatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas Mencuat

Mantan Duta Besar AS untuk Rusia, Michael McFaul, juga ikut mengkritik.

Ia mengatakan, Selat Hormuz sebelumnya terbuka dan tidak berada di bawah kendali Iran sebelum Trump memulai perang, menyiratkan bahwa eskalasi Amerika justru memperkuat pengaruh Iran di salah satu jalur energi paling penting di dunia.

Keraguan terhadap narasi resmi Washington juga semakin meluas.

Jurnalis Amerika Mehdi Hasan mengutip sumber Iran yang disebutnya sebagai pejabat tingkat tinggi.

Sumber itu menegaskan belum ada kesepakatan terkait program nuklir Iran hingga saat ini, dan fokus pembicaraan masih berkisar pada penghentian perang serta krisis Selat Hormuz.

Banyak pihak melihat hal itu sebagai tanda bahwa tuntutan Amerika kini jauh lebih rendah dibanding retorika awal Trump.

Di tengah situasi tersebut, Trump kembali membela dirinya lewat unggahan di platform Truth Social.

Ia mengatakan, kesepakatan apa pun dengan Iran nantinya akan menjadi kesepakatan yang baik dan benar, berbeda dengan perjanjian era Barack Obama yang menurutnya memberi Iran banyak uang dan jalan menuju senjata nuklir.

Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab

Trump juga menegaskan bahwa negosiasi saat ini belum final dan meminta para pengkritiknya untuk tidak mendengarkan “para pecundang yang mengkritik sesuatu yang tidak mereka pahami.

Namun unggahan itu gagal meredam kritik. Sebaliknya, pernyataannya justru memicu lebih banyak sindiran dan kemarahan di media sosial, terutama setelah artikel The Atlantic menyebar luas.

Pemimpin redaksi The Atlantic, Jeffrey Goldberg, mengatakan Trump memulai perang 28 Februari karena alasan personal, bukan strategis, dan kini menuju kekalahan karena alasan yang sama.

Menurutnya, masalah utama terletak pada karakter kepemimpinan Trump, bukan sekadar rincian konflik.

0 Komentar