Makan Malam Saat Palu Diketok

Makan Malam Saat Palu Diketok
Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bertemu Presiden Prabowo Subianto di kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026) malam.
0 Komentar

Sekarang kembali ke Kertanegara.

Pertama, soal fakta. Kita tidak tahu apa yang dibicarakan. Jokowi datang, katanya, untuk makan malam. Tidak ada yang melaporkan nama Gibran disebut. Pertemuan dua mantan dan petahana yang pernah satu kabinet, bahkan satu keluarga politik, di rumah pribadi, adalah hal yang wajar. Tidak ada yang melanggar apa pun.

Kedua, soal waktu. Sebelum putusan, Kepala Bakom Syahganda sudah menyatakan bahwa Prabowo tidak akan mengintervensi perkara. Saya percaya itu sebagai pernyataan. Tapi publik tidak hidup dari pernyataan saja. Publik melihat jam. Presiden yang baru menyatakan tidak akan campur tangan, beberapa jam kemudian makan malam dengan ayah dari wakilnya, tepat ketika perkara wakil itu sedang diputus. Tidak ada bukti pengaruh. Tapi pengamat kebetulan akan selalu bekerja lebih keras daripada hakim.

Ketiga, ini yang paling saya pikirkan. Dua hari berturut-turut kita membahas hal yang sama dari dua sisi. Senin, ramai soal salaman yang dianggap terlewat di HUT TNI, sampai orang menyimpulkan hubungan keduanya retak. Selasa malam, keduanya duduk makan di rumah pribadi. Seorang pengamat yang rajin menggambar garis dari Senin ke Selasa akan bingung: retak, atau rukun? Jawabannya mungkin sederhana. Gestur itu murah. Yang menentukan adalah apa yang terjadi di ruangan tertutup, dan itu yang tidak bisa kita lihat.

Baca Juga:Moskow Bantah Keras Isu Wabah Pes Tewaskan Teknisi Lab Siberia, Amerika Serikat Ikut PantauTerungkap Gibran Hanya Serahkan Data Kehadiran dan Transkrip Nilai, Bukan Ijazah

Dan di ruang gelap itulah kabar tak berdasar mudah tumbuh. Di situs Antara sendiri muncul tautan cek fakta berjudul “Hoaks! Prabowo tunjuk AHY gantikan Gibran sebagai wapres karena putusan MK”. Artinya, kabar semacam itu sudah beredar. Ketika orang tidak diberi cerita, mereka akan menulis cerita sendiri, dan cerita buatan orang jarang lebih jinak daripada kenyataan.

Maka ada satu hal sederhana yang menurut saya patut diucapkan kepada Istana. Makan malam tertutup itu hak seorang presiden. Tidak ada yang wajib menjelaskan siapa yang makan di rumahnya. Tapi ketika pertemuan itu bertepatan dengan putusan tentang wakil presidennya sendiri, penjelasan itu murah dan diam itu mahal. Satu kalimat dari Istana, misalnya “hanya makan malam biasa setelah HUT TNI”, sudah cukup menurunkan suhu. Tanpa itu, makan malam itu akan terus dibicarakan lebih lama daripada putusannya.

0 Komentar