Senin malam kemarin, jantung orang Indonesia berdetak di dua tempat sekaligus: di dada, dan di Stadion Gelora Bung Karno.
Sudah 120 menit. Skor 2-2. Padahal Indonesia sempat unggul, sempat disamakan, sempat dibalik, lalu menyamakan lagi. Dan setelah semua itu, nasib final FIFA ASEAN Cup 2026 diserahkan pada hal yang paling tidak adil dalam sepak bola: titik putih sebelas meter dari gawang.
Mari kita ingat urutannya, karena di situ letak ceritanya.
Dean James membuka skor untuk Indonesia. Thailand menyamakan lewat Iklas Sanron pada menit ke-87, tiga menit sebelum waktu normal habis. Lalu babak tambahan: menit ke-111, Peeradol Chamrasamee membuat Thailand berbalik unggul 2-1. Lima menit kemudian, menit ke-116, Rizky Ridho menarik bola ke depan gawang, bola sempat disentuh tangan kiper, dan Elkan Baggott menyambarnya. Skor 2-2.
Baca Juga:Terungkap Gibran Hanya Serahkan Data Kehadiran dan Transkrip Nilai, Bukan IjazahSiapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMM
Itu empat menit terakhir yang menentukan. Kalau Thailand menahan lima menit lagi, ceritanya berbeda.
Lalu penalti. Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, dan Shayne Pattynama menaklukkan kiper Thailand. Sarach Yooyen dan Nattapong Sayriya gagal untuk Thailand, sementara Manuel Bihr dan Waris Choolthong sukses. Emil Audero ikut menggagalkan satu tendangan. Akhir cerita: 4-2, Indonesia juara, di depan 70.098 penonton.
Ini trofi internasional pertama Indonesia di luar medali emas SEA Games. Dan menurut detik, puasa gelar itu sudah 35 tahun. Kalau ingatan saya benar, 35 tahun lalu juga Thailand yang dikalahkan, juga lewat adu penalti. Rupanya sepak bola kita punya kebiasaan: baru mau juara kalau lawannya Thailand dan wasitnya adalah titik putih.
Tapi saya tidak ingin ikut berpesta dulu. Ada beberapa hal yang menggelitik, dan sebagian menggelisahkan.
Pertama, dominasi tidak sama dengan kemenangan. Bola.com menyebut penguasaan Indonesia “mutlak”. Tapi lihat hasil di papan skor: dua kali kebobolan di menit-menit akhir, yaitu menit ke-87 dan 111. Tim yang dominan seharusnya tidak membuat penontonnya harus menahan napas sampai menit ke-116. Dalam sepak bola, dominasi yang tidak berbuah gol bagaikan orang kaya yang lupa membawa dompet.
