Sebelas Meter Tiga Puluh Lima Tahun

Sebelas Meter Tiga Puluh Lima Tahun
Ivar Jenner dan Egy Maulana Vikri selebrasi seusai Timnas Indonesia juara FIFA ASEAN Cup 2026. (foto: FIFA)
0 Komentar

Kedua, penalti bukan lotre, tapi juga bukan matematika. Yang menang adalah yang tenang. Itu benar, dan memang pantas dipuji. Tapi kita juga harus jujur bahwa adu penalti adalah cara paling cepat membuat dua tim yang imbang 120 menit terlihat seperti yang satu lebih baik dari yang lain. Padahal secara permainan, mereka sama-sama kuat. Thailand dua kali memimpin, dan itu bukan kebetulan.

Ketiga, soal “kutukan final lawan Thailand”. Bola.com menyebut kemenangan ini mengakhirinya. Setiap negara yang haus gelar suka memelihara kutukan. Gunanya satu: supaya kemenangan terasa seperti pembebasan. Saya tidak keberatan. Tapi kutukan yang sudah dipatahkan sebaiknya tidak dipelihara jadi bahan pidato. Besok pagi lawan baru menunggu, dan lawan baru tidak peduli sejarah kita.

Keempat, ini yang paling saya pikirkan. Nama-nama yang mencetak gol dan menendang penalti: Dean James, Kevin Diks, Elkan Baggott, Shayne Pattynama, dan penjaga gawang Emil Audero. Hampir semuanya dibesarkan dan berkarier di Eropa. Yang lahir dan tumbuh di sepak bola kita, Rizky Ridho, memberi umpan untuk gol penyama. Saya tidak mempermasalahkan naturalisasi. Pemain yang membela Merah Putih adalah Merah Putih. Tapi pertanyaan jujurnya begini: kalau piala ini dirayakan, apakah liga dan pembinaan di dalam negeri ikut dirayakan? Atau kita hanya senang karena hasilnya datang dari luar?

Itu bukan tuduhan. Itu pekerjaan rumah.

Baca Juga:Terungkap Gibran Hanya Serahkan Data Kehadiran dan Transkrip Nilai, Bukan IjazahSiapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMM

Kelima, ini untuk pelatih John Herdman. Kevin Diks sempat bercerita soal strategi Herdman yang disebutnya jitu. Strategi itu terbukti: pada menit-menit terakhir, Indonesia tidak menyerah. Tapi pelatih yang baik tidak puas dengan kemenangan yang harus menunggu menit ke-116. Dia pasti sudah mencatat dua gol yang masuk pada menit 87 dan 111.

Dan di luar lapangan, ada pesta. Nonton bareng dari Jakarta sampai Solo. Rayo Vallecano pun mengucapkan selamat. Itu bagus. Sepak bola memang satu-satunya urusan negara yang bisa membuat orang berpelukan dengan orang yang tidak dikenal, hanya karena bola masuk gawang.

Tapi saya ingat satu hal. Besok pagi, semua orang yang tadi malam berteriak “juara” akan kembali ke urusan masing-masing: harga beras, macet, tagihan. Sepak bola tidak mengubah semua itu. Yang diubahnya hanya satu: selama beberapa jam, kita merasa mampu.

0 Komentar