Pernyataan Xi datang ketika persoalan Taiwan tetap menjadi salah satu sumber utama ketegangan China dengan Amerika Serikat. Washington tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taiwan, tetapi menjadi pemasok senjata utama dan terikat oleh Taiwan Relations Act untuk membantu pulau tersebut mempertahankan kemampuan membela diri.
Dengan demikian, pidato Hari Nasional kali ini mempertemukan dua pesan yang selama ini berjalan berdampingan dalam kebijakan Beijing. China berbicara mengenai pembangunan damai hubungan lintas Selat, tetapi pada saat yang sama tetap menegaskan garis merah terhadap kemerdekaan Taiwan dan keterlibatan kekuatan luar.
Hong Kong dan Makau
Xi juga kembali menegaskan prinsip “satu negara, dua sistem” dalam mengelola Hong Kong dan Makau. Ia mengatakan Beijing akan mempertahankan kebijakan “Hong Kong diperintah oleh warga Hong Kong”, “Makau diperintah oleh warga Makau”, serta tingkat otonomi yang tinggi.
Baca Juga:Siapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMMKantor dan Rumah Jabatan Bupati Gowa Digeledah Kortas Tipidkor Polri Terkait Dugaan Korupsi Perizinan PBG
Menurut Xi, kedua wilayah tersebut harus semakin terintegrasi ke dalam pembangunan nasional China sekaligus berkontribusi terhadap agenda pembangunan negara secara keseluruhan. Beijing juga menargetkan stabilitas dan kemakmuran jangka panjang di kedua wilayah administratif khusus tersebut.
Pernyataan itu konsisten dengan posisi resmi pemerintah pusat yang menempatkan integrasi Hong Kong dan Makau dengan pembangunan ekonomi nasional sebagai bagian penting dari kebijakan “satu negara, dua sistem”. Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing semakin menekankan hubungan kedua wilayah dengan kawasan ekonomi China daratan.
Empat Inisiatif Global
Dalam kebijakan luar negeri, Xi kembali membawa konsep China sebagai kekuatan yang menawarkan stabilitas di tengah dunia yang menurutnya sedang mengalami perubahan dan gejolak. Ia menyerukan implementasi empat inisiatif global serta pembangunan “komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia”.
Empat agenda yang dimaksud Beijing terdiri atas Global Development Initiative, Global Security Initiative, Global Civilization Initiative, dan Global Governance Initiative. China menggunakan empat kerangka tersebut sebagai bagian dari pendekatannya terhadap pembangunan, keamanan, hubungan antarperadaban, dan tata kelola internasional.
“Kita harus mempertahankan kebijakan luar negeri damai yang independen dan mandiri,” kata Xi. Ia mengatakan China ingin memberikan lebih banyak kepastian dan “energi positif” kepada dunia yang sedang diliputi perubahan dan gejolak.
