Di balik nada percaya diri tersebut, pidato Xi juga mengakui bahwa perekonomian China sedang bergerak dalam situasi yang tidak mudah. Ia mengatakan ekonomi negara itu terus maju “di tengah tekanan”, sekaligus menunjukkan ketangguhan dan vitalitas yang kuat.
Reuters melaporkan Xi secara khusus meminta pemerintah memastikan target ekonomi dan sosial sepanjang 2026 dapat dicapai. Ia menyerukan prinsip “mencari kemajuan sambil menjaga stabilitas” di tengah situasi domestik dan internasional yang disebutnya kompleks.
“Perekonomian China terus melangkah maju di tengah tekanan, bergerak menuju pembaruan dan peningkatan kualitas, serta memperlihatkan ketangguhan dan vitalitas yang kuat,” kata Xi.
Baca Juga:Siapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMMKantor dan Rumah Jabatan Bupati Gowa Digeledah Kortas Tipidkor Polri Terkait Dugaan Korupsi Perizinan PBG
Ia meminta pemerintah mempercepat pembentukan pola pembangunan baru, memperdalam reformasi dan keterbukaan, serta menyeimbangkan pembangunan dengan keamanan. Xi juga menekankan perlunya melindungi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mencapai sasaran pembangunan sepanjang tahun.
Pernyataan mengenai ekonomi mendapat perhatian karena disampaikan pada awal periode pelaksanaan Rencana Lima Tahun ke-15 China untuk 2026–2030. Xi mengatakan pemerintah perlu memastikan tahun pertama periode tersebut menghasilkan awal yang baik.
Pesan itu menunjukkan bahwa perayaan Hari Nasional tidak semata dipakai untuk melihat pencapaian masa lalu. Beijing juga menggunakan momentum tersebut untuk menegaskan agenda ekonomi dan politik yang hendak dijalankan ketika China menghadapi perubahan perdagangan global, persaingan teknologi, dan dinamika geopolitik yang semakin rumit.
Taiwan Kembali Jadi Pesan Keras
Taiwan menjadi salah satu isu geopolitik paling menonjol dalam pidato Xi. Ia menyerukan peningkatan pertukaran dan kerja sama lintas Selat Taiwan, tetapi pada saat bersamaan kembali menegaskan penolakan Beijing terhadap gerakan yang mendukung kemerdekaan Taiwan dan apa yang disebut China sebagai campur tangan kekuatan eksternal.
“Kita harus memperdalam pertukaran dan kerja sama kedua sisi Selat, dengan tegas menindak kekuatan separatis ‘kemerdekaan Taiwan’, dan menentang campur tangan kekuatan eksternal,” kata Xi. Ia kemudian menyerukan perkembangan damai hubungan lintas Selat dan kemajuan menuju penyatuan China.
Beijing memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayah China dan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk mencapai penyatuan. Pemerintah Taiwan menolak klaim kedaulatan Beijing dan menyatakan masa depan pulau tersebut harus ditentukan oleh masyarakat Taiwan sendiri.
