MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, tak memusingkan asal negara pengimpor minyak mentah termasuk dari Rusia untuk kebutuhan nasional. Di tengah ketidakpastian geopolitik global, Bahlil menegaskan fokus utama pemerintah saat ini menjamin ketersediaan pasokan pasokan energi dengan harga termurah.
“Kita (RI) sekarang mendapat crude dari beberapa negara, termasuk Rusia. Yang penting barang ada dan murah,” kata Bahlil, dalam kegiatan Innovation Technology for Social & Environmental Awards di Four Seasons Hotel Jakarta, Senin (14/9/2026).
Menurut Bahlil, prinsip politik bebas aktif tak hanya berlaku di ranah diplomatik, tetapi juga diimplementasikan langsung dalam arah kebijakan ekonomi nasional. Oleh karena itu, ia mengklaim tidak boleh ada satu negara pun yang mengintervensi atau mengatur Indonesia dalam menentukan sumber kebutuhan energinya.
Baca Juga:Dokumen Rahasia Pembunuhan JFK: Misteri Lama, Operasi CIA, hingga Terselipnya Nama IndonesiaIdentitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan Pemerintah
“Saya katakan negara Indonesia adalah negara merdeka. Kita menganut mazhab politik bebas aktif, kita juga menganut mazhab ekonomi bebas aktif,” ucap Bahlil.
Menurut Bahlil, pemerintah tidak mempermasalahkan sumber atau asal negara minyak mentah, selama pasokannya terjamin dan harganya terjangkau.
“Itu paling penting. Urusan mau dari laut sana, laut sini, langit sana, tidak penting. Yang penting ada barang, harga murah,” lanjut dia.
Bahlil berkata pemerintah sebelumnya telah mengalihkan sumber crude dari kawasan Timur Tengah ke sejumlah negara lain, termasuk negara-negara di Afrika dan Angola. Langkah itu dilakukan lantaran kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.
Sedangkan, lifting minyak Indonesia berada di kisaran 600 ribu-610 ribu barel per hari. Kondisi geopolitik juga disebut menjadi perhatian karena sekitar 20-24 persen crude untuk memasok kebutuhan dalam negeri melewati Selat Hormuz.
“Selat Hormuz tertutup, 20-24 persen crude kita untuk menyuplai dalam negeri itu lewat Selat Hormuz. Begitu ditutup, ada dua tantangannya. Satu adalah kepastian suplai, yang kedua adalah harga,” tutur Bahlil.
