Dewan Pendidikan Texas Resmi Sahkan Revisi Kurikulum IPS, Sejarah Islam Dinarasikan 'Brutal' dan 'Radikal'

Dewan Pendidikan Negara Bagian Texas mensahkan keputusan akhir mengenai kurikulum studi sosial sekolah menenga
Dewan Pendidikan Negara Bagian Texas mensahkan keputusan akhir mengenai kurikulum studi sosial sekolah menengah atas. (Sumber: Badan Pendidikan Texas)
0 Komentar

Suara Hati Pelajar Muslim dan Kecaman Kelompok HAM

Pengesahan ini menyisakan luka mendalam bagi kalangan siswa Muslim di Texas yang sempat memberikan kesaksian di hadapan dewan.

“Saya merasa diserang, seolah-olah agama saya tidak termasuk di sini. Saya seharusnya tidak harus membela agama saya di tengah kelas sejarah hanya karena satu kalimat yang ditulis seseorang di dewan ini,” ujar Habiba Quresh (15), seorang pelajar Muslim, seperti dikutip dari AP News.

Reaksi keras juga dilayangkan Dewan Hubungan Islam-Amerika (Council on American-Islamic Relations/CAIR). Lewat perwakilannya di Texas, CAIR menyebut dewan telah merusak fungsi ruang kelas.

Baca Juga:Dokumen Rahasia Pembunuhan JFK: Misteri Lama, Operasi CIA, hingga Terselipnya Nama IndonesiaIdentitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan Pemerintah

“Dewan telah mengubah ruang kelas kami menjadi tempat di mana prasangka diajarkan sebagai fakta, dan seluruh komunitas ditulis ulang dari sejarah mereka sendiri,” tegas CAIR dalam pernyataan resminya di platform X.

Anggota parlemen Muslim di gedung negara bagian Texas, Salman Bhojani, turut mengecam revisi ini. “Sejarah selektif bukanlah pendidikan. Siswa Texas berhak mendapatkan sejarah yang akurat, lengkap, dan adil,” tulis Bhojani.

Selain menyasar narasi Islam, kurikulum baru ini menggeser fokus pengajaran dengan mewajibkan pembacaan Alkitab, menyoroti atribut positif Kekristenan, serta menghubungkan prinsip-prinsip Alkitab dengan dokumen bersejarah seperti Deklarasi Kemerdekaan dan pidato ‘I Have a Dream’ milik Martin Luther King Jr.

Namun, sejumlah pengamat dan anggota dewan dari Partai Demokrat menyoroti bahwa materi baru ini terkesan mengabaikan fakta sejarah bagaimana Alkitab di masa lalu sempat digunakan oleh sebagian warga kulit putih Amerika untuk membenarkan perbudakan warga kulit hitam.

“Perbudakan sudah ada selama ribuan tahun sebelum Islam. Tidak adil untuk melabeli perbudakan sebagai identik dengan Islam tanpa membahas peran Kristen dalam perdagangan budak ke Amerika,” cetus Sarah (11), seorang siswa yang turut bersaksi, dilansir US News.

Anggota dewan dari San Antonio, Marisa B. Pérez-Díaz (Demokrat), juga menyayangkan bahwa perbudakan di AS kini hanya digambarkan sebagai institusi umum yang “ada di banyak masyarakat sepanjang sejarah”, tanpa menekankan sifat kekejamannya yang berbasis ras di Amerika.

0 Komentar