Houthi Kuasai Penuh Pesisir Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb, Ancaman Baru Jalur Perdagangan Global

Lokasi titik panas (Foto: Al Jazeera).
Lokasi titik panas (Foto: Al Jazeera).
0 Komentar

KELOMPOK Houthi di Yaman mencatatkan kemenangan militer strategis yang mengguncang peta geopolitik kawasan. Seluruh garis pantai Laut Merah di wilayah Yaman kini resmi berada di bawah kendali penuh Houthi setelah berhasil merebut kota pelabuhan strategis, Kota Mocha.

Keberhasilan operasi kilat ini secara otomatis memperluas cengkeraman Houthi atas Selat Bab al-Mandeb, yang dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran dan komoditas energi paling krusial di dunia.

Berdasarkan laporan dari lapangan, pasukan militer pemerintah Yaman yang diakui secara internasional—didukung oleh koalisi Arab Saudi—melakukan penarikan pasukan secara menyeluruh tanpa perlawanan berarti. Mundurnya pasukan pemerintah terjadi pasca-pertempuran sengit di Al-Waziyah, sebelah barat Taiz, yang berlanjut pada jatuhnya Kota Mocha serta pangkalan militer penting Khalid ibn al-Walid ke tangan pasukan Ansarallah.

Baca Juga:Dokumen Rahasia Pembunuhan JFK: Misteri Lama, Operasi CIA, hingga Terselipnya Nama IndonesiaIdentitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan Pemerintah

Meski angkatan udara Arab Saudi sempat melancarkan serangan balasan yang menargetkan Bandar Udara Mocha, Houthi kini memegang kendali militer dan posisi tawar yang sangat dominan di lapangan. Presiden Dewan Politik Tertinggi Houthi, Mahdi al-Mashat, bahkan telah mengeluarkan seruan terbuka agar seluruh prajurit pasukan pemerintah meletakkan senjata, disertai jaminan pengampunan dan imunitas penuh.

Peningkatan Kapasitas Tempur dan Kartu Truf Geopolitik

Penguasaan penuh atas pesisir Laut Merah ini memperlihatkan evolusi signifikan kapasitas tempur Houthi. Selain ditopang personel darat yang tangguh, kelompok ini kini diperkuat oleh sistem pertahanan udara modern, armada rudal, hingga teknologi drone mumpuni.

Para pengamat menilai, penarikan mundur pasukan pemerintah yang tidak terorganisasi dengan baik menjadi celah emas bagi Houthi untuk menancapkan pengaruh permanen. Dengan memegang kendali atas urat nadi perdagangan Laut Merah, Houthi kini memiliki kartu truf geopolitik yang sangat besar untuk mengatur lalu lintas maritim internasional.

Sejumlah perusahaan pelayaran global diprediksi bakal segera merevisi rute perjalanan kapal guna menghindari potensi gangguan keamanan di koridor vital tersebut. Respons kolektif dari aliansi global dan kekuatan regional kini dinantikan untuk meredam potensi krisis navigasi yang mengancam stabilitas rantai pasok komoditas dunia.

Gejolak Timur Tengah Meluas

0 Komentar