TERKAIT kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang boleh dibilang terjadi saban tahun, sering melibatkan industri tambang, hingga perkebunan sawit di lahan gambut.
Koordinator Kampanye Walhi Nasional, Uli Arta Siagian, mengatakan, sejak Januari hingga 27 Juli 2026, terdapat 34.262 titik panas (hotspot), dan 33.837 hektare area terbakar. Menjadikan pulau Kalimantan sebagai episentrum bencana karhutla.
“Padahal, musim kemarau belum mencapai puncaknya. Secara keseluruhan, terdapat 118.420 hotspot di seluruh Indonesia dengan luas indikatif kebakaran mencapai 107.649 hektare,” ungkapnya dikutip Sabtu (22/8/2026).
Baca Juga:Siapa Norman Arie Prayogo? Profil Warek III Unsoed yang Turut Diamankan KPKKorban Tewas Gempa M 7,4 Kolombia Kini 111 Orang 1.575 Rumah Rusak
Di Borneo, Kalimantan Barat (Kalbar) mencatat hotspot tertinggi, sebanyak 17.236 titik. Luas kebakaran sekitar 28.680 hektare. Titik panas dan kebakaran juga melanda provinsi lain, seperti Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Timur (Kaltim), dan Kalimantan Utara (Kaltara).
Walhi juga mencatat adanya peningkatan hotspot yang tajam sepanjang Juli 2026. Biasanya, periode April-Juni hotspot tidak pernah melampaui 74 titik per bulan.
Namun pada Juli tahun ini, melonjak signifikan hingga 615 hotspot. “Kenaikan mencolok terjadi di Kalbar dengan 778 hotspot, atau sekitar 65 persen dari total hotspot skala tinggi di Kalimantan,” imbuhnya.
Perusahaan yang Diduga Terlibat Karhutla
Sementara, Walhi Kalsel merilis data 71 persen titik panas kebakaran hutan di lahan konsesi milik perusahaan. Terdapat 875 titik berada di konsesi tambang dan 32 titik di perkebunan sawit.
Secara nasional, berdasarkan data Walhi, titik panas (hotspot) teridentifikasi sebanyak 11.189 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi, sedang dan rendah.
Dari jumlah itu, sebanyak 1.351 titik berada di dalam konsesi milik 15 perusahaan. Rinciannya, sebanyak 699 titik api di dalam dan sekitar konsesi 5 perusahaan sawit.
Sebanyak 285 titik api, berada dalam konsesi 5 perusahaan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), dan sebanyak 367 titik api di dalam dan sekitar konsesi 5 perusahaan tambang.
Baca Juga:Pemkab Cirebon Resmikan Fasilitas KDKMP: 116 Koperasi Desa Siap Beroperasi Gerakkan Ekonomi KerakyatanKebakaran Rumah di Cirebon, Ayah dan Bayi Laki-laki Usia 6 Bulan Ditemukan Tewas
Perusahaan-perusahaan yang dimaksud adalah PT Limpah Sejahtera (Kalimantan Barat), PT Lestari Alam Raya (Kalimantan), PT Meskom Agro Sarimas (Riau), PT Sumatra Unggul Makmur (Kalimantan/Perbatasan), PT Trisetya Usaha Mandiri 2 (Kalimantan), dan PT Sekato Pratama Makmur (Riau).
Berikutnya ada PT Bhatara Alam Lestari (Kalimantan Barat), PT Arara Abadi (Riau), dan PT Wira Karya Sakti (Jambi).
