Trump kemudian kembali mengangkat gagasan tersebut pada 17 Agustus, ketika berbicara kepada wartawan di Gedung Putih. Sehari setelahnya, pada 18 Agustus, Trump mengunggah peta yang secara langsung memberi label Selat Hormuz sebagai “NEW US Territory”.
Persoalan menjadi semakin rumit karena peta yang diunggah Trump tidak hanya menandai jalur laut Selat Hormuz, tetapi lingkaran yang dibuatnya juga terlihat mencakup sebagian wilayah daratan Iran di bagian utara selat.
Setelah unggahan tersebut dibuat, sekali lagi Gharibabadi memberi tanggapan dengan menyebut jika klaim Iran berada di ambang kehancuran hanya bualan belaka.
Baca Juga:Korban Tewas Gempa M 7,4 Kolombia Kini 111 Orang 1.575 Rumah RusakPemkab Cirebon Resmikan Fasilitas KDKMP: 116 Koperasi Desa Siap Beroperasi Gerakkan Ekonomi Kerakyatan
“Mereka mengklaim Iran berada di ambang kehancuran dan bergantung pada seutas benang, namun mereka memohon bantuan kepada semua sekutu mereka! Masalahnya adalah perhitungan yang salah, yang setiap kali untuk menutupinya, mereka terpaksa menciptakan kegagalan yang lebih besar bagi diri mereka sendiri. Perang militer tidak membuahkan hasil, jadi sekarang mereka menamai kegagalan berikutnya sebagai “perang ekonomi,” tulisnya.
Penutupan Selat Hormuz digunakan Iran sebagai alat tekanan terhadap AS. Tehran menyatakan tidak akan membuka kembali selat secara normal sebelum Washington memenuhi sejumlah tuntutan, di antaranya adalah penghentian blokade terhadap pelabuhan Iran, pencabutan sanksi minyak, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta pembayaran ganti rugi atas kerusakan dan korban akibat perang.
Situasi tersebut juga memberikan tekanan besar kepada pemerintahan Trump di dalam negeri. Perang yang awalnya dikaitkan dengan upaya menghentikan program nuklir Iran dan mengamankan material nuklir kemudian berkembang menjadi konflik yang lebih panjang.
Tekanan politik terhadap Trump juga semakin besar karena pemilu paruh waktu yang menentukan kembali komposisi Kongres AS semakin dekat. Sejumlah anggota Partai Republik telah memperingatkan bahwa dampak perang dengan Iran dapat merugikan partai mereka dalam pemilu.
“Situasi di Iran ini menimbulkan dampak yang tak terbayangkan. Sangat takut menghadapi pemilihan paruh waktu,” kata Senator West Virginia Jim Justice yang merupakan anggota Partai Republik dikutip The Independent, Selasa(18/8/2026).
Sebelumnya, pada Juni 2026, AS dan Iran sempat memiliki kesepahaman sementara selama 60 hari yang memperpanjang gencatan senjata. Kesepahaman tersebut sempat memberikan harapan bahwa kedua negara dapat kembali berunding mengenai program nuklir Iran dan bahwa lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz dapat kembali mendekati kondisi normal seperti sebelum perang.
