Pemberontakan tersebut menuntut dihentikannya gelombang migrasi Yahudi ke Palestina, dicabutnya dukungan Inggris terhadap Zionisme, serta terwujudnya kemerdekaan bangsa Arab.
Pelarian Politik dan Hubungan dengan Blok Poros
Akibat perlawanan terbuka tersebut, hubungan al-Husseini dengan Inggris berbalik 180 derajat. Ia yang tadinya dianggap sebagai sekutu potensial kini menjadi buronan utama. Ia kemudian mengungsi ke Lebanon, Irak, hingga Iran, sebelum akhirnya memenuhi undangan Kementerian Luar Negeri Jerman untuk melakukan pertemuan resmi dengan Adolf Hitler di Berlin.
Sebelum tiba di Berlin, al-Husseini sempat singgah selama sebulan di Roma dan menemui Perdana Menteri Italia, Benito Mussolini. Dalam pertemuan itu, Mussolini menyatakan dukungannya terhadap perjuangan bangsa Arab dan menyarankan agar kaum Yahudi mendirikan negara di Amerika Serikat jika memang menginginkannya.
Baca Juga:Korban Tewas Gempa M 7,4 Kolombia Kini 111 Orang 1.575 Rumah RusakPemkab Cirebon Resmikan Fasilitas KDKMP: 116 Koperasi Desa Siap Beroperasi Gerakkan Ekonomi Kerakyatan
Di satu sisi, naiknya Adolf Hitler sebagai Kanselir Jerman pada 1933 merupakan bencana kemanusiaan bagi kaum Yahudi Eropa. Namun, di sisi lain, kebijakan anti-Semit rezim Nazi membuat ambisi kaum Zionis untuk memulangkan diaspora Yahudi ke Palestina semakin menemukan momentumnya.
Tak lama setelah berkuasa, Hitler mendirikan kamp konsentrasi pertama di Dachau, memberlakukan boikot bisnis, mencabut hak kewarganegaraan warga Yahudi, hingga mendeportasi anak-anak mereka.
Ketika Hitler dan al-Husseini akhirnya bertatap muka pada 28 November 1941 di Berlin, rezim Jerman telah menerapkan kebijakan anti-Semit selama hampir satu dekade. Sejarawan Jeffrey Herf dalam risetnya bertajuk Haj Amin al-Husseini, the Nazis and the Holocaust: The Origins, Nature, and Aftereffects of Collaboration (2016) menegaskan bahwa al-Husseini hanyalah seorang pencari suaka politik yang tidak memiliki kapasitas untuk mendikte, apalagi menggagas kebijakan internal maupun eksternal Jerman, termasuk kebijakan “Solusi Akhir” terhadap bangsa Yahudi.
Dalam pertemuan tersebut, al-Husseini menyatakan bahwa bangsa Arab dan Jerman memiliki musuh bersama, yakni Inggris, kaum Zionis, dan kaum Komunis. Ia meminta Hitler untuk secara terbuka mendeklarasikan penentangannya terhadap pendirian negara Yahudi di Palestina.
Menanggapi hal itu, Hitler menyatakan bahwa Jerman akan terus memerangi pengaruh kekuatan Yahudi—yang disebutnya berpusat pada Inggris dan Uni Soviet—namun menyarankan agar al-Husseini fokus menggalang propaganda anti-Inggris di dunia Arab.
