GUNUNG Anak Krakatau di Lampung Selatan, Lampung mengalami delapan kali letusan disertai semburan lava pijar dengan status aktivitas bertahan di Level III (Siaga).
Petugas Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau PVMBG Badan Geologi, Muhammad Dika Nurzaman dalam laporan resmi di Jakarta, Senin (17/8/2026) menyebutkan, aktivitas vulkanik tersebut tercatat selama periode pengamatan Minggu (16/8) pukul 00.00 hingga 24.00 WIB.
“Teramati delapan kali letusan dengan tinggi 200 hingga 300 meter di atas puncak kawah, dimana warna asap teramati kelabu dan hitam. Selain letusan, juga teramati adanya semburan lava pijar,” kata dia.
Baca Juga:Korban Tewas Gempa M 7,4 Kolombia Kini 111 Orang 1.575 Rumah RusakPemkab Cirebon Resmikan Fasilitas KDKMP: 116 Koperasi Desa Siap Beroperasi Gerakkan Ekonomi Kerakyatan
Dia menjelaskan bahwa berdasarkan pengamatan visual, Gunung Anak Krakatau terlihat jelas hingga tertutup kabut.
Asap kawah teramati berwarna putih, kelabu, hingga hitam dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal serta membubung setinggi 10 sampai 300 meter di atas puncak.
Dari segi kegempaan, instrumen PVMBG merekam delapan kali gempa letusan dengan amplitudo 43-60 mm berdurasi 34-59 detik, 46 kali gempa hembusan, 10 kali tremor harmonik, serta 11 kali gempa hybrid/fase banyak.
Aktivitas tremor menerus atau microtremor juga dilaporkan terekam dengan amplitudo dominan 20 mm.
Merespons tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus Siaga, PVMBG mengeluarkan rekomendasi ketat bagi masyarakat maupun wisatawan.
PVMBG Badan Geologi mengimbau masyarakat, pengunjung, wisatawan, serta pendaki untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas apapun dalam radius aman tiga kilometer dari kawah aktif guna mengantisipasi bahaya lontaran material vulkanik.
Anak Krakatau Meletus 19 Kali Sejak Juni-Juli
Selama bulan Juni-Juli 2026, Anak Krakatau mengalami 19 kali erupsi. Peningkatan aktivitas vulkanik tersebut terus dipantau secara intensif melalui pengamatan visual maupun instrumental untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung api secara berkelanjutan.
Baca Juga:Kebakaran Rumah di Cirebon, Ayah dan Bayi Laki-laki Usia 6 Bulan Ditemukan TewasKasus Kematian Sutrimo: Fakta, Dugaan Kepala Urusan Rumah Tangga Febrie, dan Perkembangan Penyelidikan
“Dari tanggal 2 Juni hingga 11 Juli 2026 telah terjadi 19 kali erupsi. Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih fluktuatif, sehingga pemantauan dilakukan selama 24 jam,” kata Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan Suwarno, pada 13 Juli 2026.
Ia menjelaskan hasil pemantauan menunjukkan aktivitas kegempaan dan embusan masih terekam oleh alat pemantau. Kondisi ini menjadi indikator bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berlangsung.
