Akar Tradisi 17-an: Dari Permainan Kolonial hingga Simbol Kemerdekaan Rakyat

Anak-anak Blok Wuni I Desa Dawuan Kecamatan Tengah Tani Kabupaten Cirebon momen gebyar kemerdekaan
Anak-anak Blok Wuni I Desa Dawuan Kecamatan Tengah Tani Kabupaten Cirebon momen gebyar kemerdekaan
0 Komentar

PERAYAAN Hari Kemerdekaan Republik Indonesia selalu identik dengan keriuhan aneka perlombaan di tengah masyarakat.

Mulai dari balap karung, panjat pinang, tarik tambang, hingga makan kerupuk, tradisi ini konsisten menjadi agenda yang paling ditunggu-tunggu setiap bulan Agustus.

Lebih dari sekadar hiburan musiman di lingkungan RT/RW, sekolah, maupun perkantoran, perlombaan tersebut telah berakar menjadi ruang interaksi sosial untuk merajut kebersamaan dan memupuk nasionalisme.

Sejarah Awal Mula Lomba Agustusan

Baca Juga:Korban Tewas Gempa M 7,4 Kolombia Kini 111 Orang 1.575 Rumah RusakPemkab Cirebon Resmikan Fasilitas KDKMP: 116 Koperasi Desa Siap Beroperasi Gerakkan Ekonomi Kerakyatan

Berdasarkan catatan dari situs Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Bisnis dan Pariwisata (BBPPMPVBISPAR) Kemendikdasmen, tradisi perlombaan 17 Agustus diperkirakan mulai marak pada tahun 1950.

Kala itu, rakyat Indonesia menyambut perayaan HUT RI yang kelima dengan euforia tinggi. Keterbatasan fasilitas di masa pascakemerdekaan tidak menyurutkan kreativitas warga untuk merayakannya, dengan memanfaatkan barang-barang sederhana yang ada di sekitar seperti karung goni dan batang pohon pinang.

Transformasi Makna dari Masa Kolonial

Dalam buku Bunga Rampai Kisah, Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma, Heri Priyatmoko, memandang bahwa tradisi lomba Agustusan berfungsi sebagai monumen ingatan kolektif masyarakat terhadap perjalanan sejarah masa lalu.

Sementara itu, budayawan DA Setiawan mengungkapkan bahwa fondasi sejumlah permainan 17-an sebenarnya mengadopsi tradisi era penjajahan Belanda dan Jepang. Permainan seperti panjat pinang, tarik tambang, hingga lomba kuda-kuda tercatat sudah eksis sejak zaman kolonial.

Kendati demikian, warisan permainan tersebut diadopsi dan diteruskan bukan untuk mengenang penjajah, melainkan dialihfungsikan demi merayakan kedaulatan bangsa. Nilai-nilai di dalamnya pun mengalami pergeseran dan penyesuaian historis yang mendalam.

“Nilai di seputar lomba-lomba itu dibangun kemudian disesuaikan dengan nilai historis. Seperti lomba balap karung identik dengan kesusahan zaman Jepang, kemudian panjat pinang identik dengan gotong royong,” pungkasnya.

0 Komentar