“Unggahan soal video demo di tanggal 26 Juli sampai 1 Agustus menunjukkan ada pola yang sangat mirip, terutama berada pada tingkat framing dan struktur narasi, ada kemungkinan narrative coordination atau coordinated amplification,” tuturnya.
Beberapa struktur ini tampak dari urgency hook, emotional judgement hingga call to amplify. Berikut ini analisa struktur narasinya:
- Urgency hook”DEMO HARI INI”, “BEBERAPA HARI TERAKHIR”, “DARURAT”, “TERNYATA INI”, disertai huruf kapital dan emoji 🚨. Proporsi amplifikasi mencapai 68,1%
- Inflation of scaleDemonstrasi digambarkan “besar”, “di mana-mana”, “serentak di seluruh Indonesia”, atau berpotensi mengulang 1998.
- Suppression claimMedia nasional dan televisi dituduh “bungkam”, sengaja tidak memberitakan, atau algoritma dianggap menenggelamkan informasi.
- Repression claimSinyal disebut hilang, internet diganggu, atau mahasiswa tidak dapat melakukan siaran langsung karena “sabotase aparat”.
- Emotional judgementDigunakan kata-kata seperti “muak”, “gila”, “rezim”, “pemerintah zalim”, “negara kacau”, dan “media dibungkam”.6
- Call to amplifyAudiens diminta membantu like, repost, memeriahkan tagar, dan memastikan video “tidak kalah oleh algoritma”.
Lebih lanjut, Ika menjelaskan bahwa akun yang paling banyak dibagikan tersebut merupakan akun centang biru. Dia mengingatkan bahwa akun centang biru ini berarti berlangganan X premium, bukan terkait dengan identitas atau keahlian terverifikasi pemilik akun.
Baca Juga:Kebakaran Rumah di Cirebon, Ayah dan Bayi Laki-laki Usia 6 Bulan Ditemukan TewasKasus Kematian Sutrimo: Fakta, Dugaan Kepala Urusan Rumah Tangga Febrie, dan Perkembangan Penyelidikan
“Hal yang juga perlu diperhatikan dari akun-akun yang paling banyak di-share ini Adalah Sebagian besar mereka memiliki “centang biru”. Saat ini, centang biru berarti akun berlangganan X Premium dan memenuhi persyaratan dasar, bukan bahwa identitas, keahlian, atau isi unggahannya telah diverifikasi,” ungkapnya.
