“Kenali Depresi Bersama Depressly” yang berisi materi edukasi serta panduan penggunaan aplikasi secara mandiri.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka aktif mengikuti demonstrasi, mengerjakan skrining, serta berdiskusi mengenai berbagai persoalan kesehatan mental yang sering dihadapi remaja. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, peserta kembali mengikuti post-test sebagai evaluasi terhadap peningkatan pengetahuan yang diperoleh.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti kegiatan. Nilai rata-rata pre-test yang semula sebesar 69 meningkat menjadi 80 pada post-test. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan melalui penyuluhan dan demonstrasi aplikasi Depressly mampu meningkatkan pengetahuan siswa mengenai depresi, pentingnya deteksi dini, serta upaya menjaga kesehatan mental sejak usia remaja.
Baca Juga:Kebakaran Rumah di Cirebon, Ayah dan Bayi Laki-laki Usia 6 Bulan Ditemukan TewasKasus Kematian Sutrimo: Fakta, Dugaan Kepala Urusan Rumah Tangga Febrie, dan Perkembangan Penyelidikan
Selain memberikan edukasi, tim juga melaksanakan skrining menggunakan aplikasi Depressly terhadap 60 siswa kelas XII SMAN 4 Kota Cirebon. Hasil skrining menunjukkan sebanyak 36 siswa tidak terindikasi berisiko depresi, 11 siswa berada pada kategori risiko depresi ringan, 8 siswa kategori risiko depresi sedang, dan 5 siswa kategori risiko depresi berat.
Temuan tersebut menjadi gambaran bahwa masih terdapat siswa yang memerlukan perhatian lebih terkait kesehatan mental sehingga upaya edukasi, deteksi dini, dan pendampingan di lingkungan sekolah perlu terus ditingkatkan.
Meski demikian, Tim Pengabdian menegaskan bahwa hasil yang diperoleh melalui Depressly bukan merupakan diagnosis klinis.
Aplikasi ini dikembangkan sebagai media skrining dini untuk membantu mengidentifikasi tingkat risiko depresi pada remaja. Peserta yang memperoleh hasil dengan kategori risiko tertentu tetap disarankan berkonsultasi lebih lanjut dengan tenaga profesional, seperti psikolog atau psikiater, agar mendapatkan penilaian dan penanganan yang sesuai.
Melalui kegiatan ini, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya berharap pemanfaatan teknologi digital seperti Depressly dapat mendukung upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan mental. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah juga diharapkan terus berlanjut guna meningkatkan literasi kesehatan mental remaja serta menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih peduli, suportif, dan responsif terhadap kesehatan mental peserta didik.
