Lomba Bertutur SD Kota Cirebon 2026: Edukasi Sejarah Lokal hingga Catatan untuk Guru

Kepala Dispusip Kota Cirebon, Mastara (kanan) dan Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Perpustakaan, Eka Purnomo Si
Kepala Dispusip Kota Cirebon, Mastara (kanan) dan Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Perpustakaan, Eka Purnomo Sidik (kiri) bersama peserta Lomba Bertutur bagi Siswa/Siswi SD/MI Se Kota Cirebon 2026
0 Komentar

LOMBA Bertutur tingkat SD/MI se-Kota Cirebon sukses digelar sebagai sarana bagi anak-anak untuk mengasah kemampuan literasi sekaligus mendongkrak rasa percaya diri. Kegiatan hasil kolaborasi Perpustakaan Nasional dan Pemerintah Kota Cirebon ini diikuti oleh talenta-talenta berbakat dari berbagai sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah.

Dalam ajang ini, para peserta tidak hanya dituntut mampu membaca. Mereka ditantang untuk memahami, menghayati, hingga menyampaikan kembali isi bacaan dalam bentuk penuturan yang atraktif di atas panggung.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Cirebon, Mastara, mengungkapkan bahwa kompetisi ini merupakan langkah strategis untuk menumbuhkan kegemaran membaca sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini.

Baca Juga:Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut MunculAmanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 Juni

“Melalui kompetisi ini, diharapkan anak-anak didik kita tidak hanya terampil secara artikulasi, namun juga mampu menyerap nilai-nilai karakter, budi pekerti, dan kearifan lokal yang terkandung dalam cerita rakyat Cirebon dan Provinsi Jawa Barat,” ujar Mastara.

Ruang Kebudayaan Paling Awal

Senada dengan hal tersebut, Budayawan Cirebon, Kang Ipul, menekankan bahwa bertutur merupakan fondasi awal yang sangat krusial bagi tumbuh kembang anak. Medium cerita rakyat dinilai sangat efektif untuk menyuntikkan nilai-nilai karakter.

“Bertutur ini sebetulnya menjadi ruang kebudayaan paling awal ketika kita memperkenalkan seni budaya, karakter, dan pola bimbingan yang diambil dari hikmah cerita untuk anak-anak penerus bangsa,” kata Kang Ipul.

Menariknya, panggung lomba bertutur kali ini juga dimanfaatkan sebagai momen krusial untuk mengedukasi masyarakat serta meluruskan sejarah lokal Cirebon yang selama ini kerap keliru di masyarakat.

“Bukan diluruskan, tapi sebetulnya membenarkan kisah sejarah. Bahwa Sunan Gunung Jati itu memang meneruskan apa yang menjadi kepemimpinan Pangeran Cakrabuana di Cirebon, sementara Sunan Gunung Jati adalah pendiri kerajaan di Banten,” jelas Kang Ipul meluruskan.

Usul Coaching Clinic untuk Guru

Meski berjalan sukses dan menyedot antusiasme yang membeludak, pihak panitia beserta pengamat budaya memberikan sejumlah catatan evaluasi untuk pelaksanaan kompetisi di tahun-tahun mendatang. Salah satunya menyasar kesiapan para guru pendamping.

Selama ini, pihak sekolah kerap langsung menerjunkan siswa ke arena lomba tanpa adanya pembekalan yang matang bagi guru pendampingnya. Terlebih, tidak semua guru yang mendampingi memiliki latar belakang pendidikan Bahasa Indonesia.

0 Komentar