LAPORAN intelijen terbaru Amerika Serikat (AS) mengungkapkan kekhawatiran mendalam mengenai meningkatnya aktivitas spionase Israel terhadap pejabat Washington. Ketegangan ini mencuat di tengah upaya pemerintahan Presiden Donald Trump menjalankan perundingan diplomatik dengan Iran.
Dikutip dari TRT World, sejumlah pejabat Amerika menilai upaya Israel untuk mengumpulkan informasi terkait posisi AS dalam negosiasi tersebut telah melewati batas. Meskipun kedua negara merupakan sekutu dekat yang biasanya mentoleransi aktivitas intelijen satu sama lain, intensitas pengawasan Israel saat ini dianggap mengancam kedaulatan komunikasi diplomatik AS.
Pejabat Senior Jadi Sasaran
Laporan intelijen tersebut mengindikasikan ada peningkatan pengawasan Israel terhadap sejumlah tokoh kunci di lingkaran pemerintahan Trump. Beberapa nama yang disebut menjadi sasaran antara lain:
Baca Juga:Amanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 JuniDraft Tak Resmi Rancangan Kesepakatan Iran-Amerika Serikat Bocor, Teheran Disebut Dapat Kendali Selat Hormuz
- Steve Witkoff: Kepala negosiator Presiden Donald Trump.
- Elbridge A. Colby: Kepala Kebijakan Pentagon.
- Michael P. DiMino IV: Wakil Kepala Kebijakan Pentagon.
Selain itu, Defense Intelligence Agency (DIA) secara resmi menaikkan tingkat ancaman kontraintelijen Israel dari status tinggi menjadi kritis. Peningkatan status ini dipicu oleh dugaan upaya sistematis untuk memata-matai personel militer dan pejabat pemerintah AS melalui perangkat lunak yang ditanam secara diam-diam pada telepon genggam.
Catatan Keamanan: Personel pertahanan AS di Israel dilaporkan menemukan perangkat lunak penyadap pada perangkat komunikasi mereka yang mampu mencegat data dan pembicaraan sensitif secara real-time.
Dilema Kerja Sama Militer
Kekhawatiran ini muncul di saat yang kontradiktif, yaitu AS dan Israel sebenarnya sedang menjalin kerja sama militer yang sangat erat dalam menghadapi pengaruh Iran di kawasan. Namun, pejabat Amerika meyakini Israel berupaya keras mendapatkan gambaran mendalam mengenai strategi negosiasi Trump yang cenderung mendorong jalur diplomasi.
Perbedaan visi antara Washington dan Tel Aviv menjadi pemicu utama. Di satu sisi, Trump mengedepankan dialog, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap pada posisi keras untuk melemahkan pemerintahan Iran dan sekutunya secara total.
Seorang pejabat senior AS menggambarkan aktivitas pengumpulan intelijen Israel selama masa pemerintahan kedua Trump ini sebagai tindakan yang tidak terkendali. Hal ini berpotensi mempersulit integrasi militer di masa depan jika Pentagon memutuskan untuk membatasi pertukaran informasi guna melindungi data sensitif mereka.
