MENTERI Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi melakukan kunjungan ke Teheran, Iran, untuk menyerahkan surat khusus kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Mengutip Aljazeera, Minggu (7/6/2026), langkah tersebut menjadi bagian dari upaya diplomatik Islamabad dalam mendorong berakhirnya perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung selama 100 hari.
Naqvi tiba di ibu kota Iran pada Sabtu (6/6/2026) malam waktu setempat dan langsung bertemu Menteri Dalam Negeri Iran, Eskandar Momeni. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas perkembangan terbaru di kawasan serta berbagai isu keamanan dalam negeri.
Baca Juga:Amanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 JuniDraft Tak Resmi Rancangan Kesepakatan Iran-Amerika Serikat Bocor, Teheran Disebut Dapat Kendali Selat Hormuz
Sebelum kedatangannya, media Iran melaporkan Naqvi membawa surat dari kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Syed Asim Munir Ahmed Shah dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Kunjungan pejabat Pakistan itu berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk. Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) pada Minggu menyatakan telah menembak jatuh dua drone serang Iran yang dinilai mengancam lalu lintas pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Sebelumnya, pada Jumat (5/6/2026), militer Amerika Serikat mengaku berhasil mencegat tujuh rudal balistik yang mengarah ke Kuwait dan Bahrain. Beberapa jam sebelumnya, pasukan AS juga menembak jatuh empat drone Iran yang diluncurkan menuju Selat Hormuz.
Sebagai respons atas ancaman tersebut, militer AS melakukan serangan terhadap fasilitas radar pengawasan pantai Iran di Garuk dan Pulau Qeshm. Washington menyebut langkah itu dilakukan untuk mencegah serangan lebih lanjut terhadap jalur pelayaran internasional.
Aksi tersebut memicu kecaman sejumlah negara Teluk yang selama ini berupaya mendorong perdamaian. Bahrain menyebut serangan itu sebagai “agresi terang-terangan”, sedangkan Kuwait menilainya sebagai eskalasi yang berbahaya. Mesir, Yordania, dan Qatar juga turut menyampaikan kecaman.
Di tengah saling serang dan ketegangan yang terus berlangsung, negosiasi untuk mengakhiri perang masih berjalan. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan yang berhasil dicapai.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump beberapa kali mengirim sinyal berbeda. Pada satu sisi ia mengancam akan melanjutkan kampanye militer, tetapi sisi lain juga menyatakan optimistis bahwa solusi diplomatik dapat segera tercapai.
