China Kirim Patroli ke Perairan Timur Taiwan Respons Perundingan Batas Maritim Jepang-Filipina

China Kirim Patroli ke Perairan Timur Taiwan Respons Perundingan Batas Maritim Jepang-Filipina
Kapal patroli maritim raksasa China, Haixun 09/Net
0 Komentar

TIONGKOK mengirim armada patroli yang mencakup kapal pengawas maritim terbesar miliknya ke perairan timur Taiwan sebagai respons atas rencana perundingan batas maritim antara Jepang dan Filipina, South China Morning Post melaporkan, Minggu (7/6).

Kementerian Transportasi Tiongkok menyatakan armada tersebut akan bergabung dengan formasi penjaga pantai yang telah lebih dahulu dikerahkan ke kawasan itu pekan lalu. Langkah tersebut dilakukan setelah Tokyo dan Manila mengumumkan dimulainya negosiasi resmi untuk menetapkan batas zona ekonomi eksklusif (ZEE) dan landas kontinen masing-masing.

Beijing menilai perundingan tersebut berpotensi menyentuh wilayah yang diklaim Tiongkok sebagai bagian dari Taiwan dan karena itu dianggap tidak sah.

Baca Juga:Amanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 JuniDraft Tak Resmi Rancangan Kesepakatan Iran-Amerika Serikat Bocor, Teheran Disebut Dapat Kendali Selat Hormuz

Kantor berita Xinhua menyebut patroli terbaru merupakan “tindakan yang diperlukan sebagai respons terhadap pengumuman sepihak Jepang dan Filipina untuk memulai negosiasi batas maritim di perairan timur Pulau Taiwan, yang secara serius melanggar kedaulatan teritorial serta hak dan kepentingan maritim China.”

Patroli Gabungan Perdana

Media pemerintah Tiongkok menggambarkan operasi tersebut sebagai patroli penegakan hukum maritim khusus untuk memperkuat kemampuan pengawasan dan pengendalian lalu lintas laut di kawasan strategis.

Menurut data pelacakan kapal yang dikutip sejumlah pengamat maritim, armada itu mencakup Haixun 09, kapal patroli maritim berbobot 10.000 ton yang merupakan kapal terbesar di kelasnya milik ‘Negeri Tirai Bambu’. Selain itu, turut dikerahkan kapal survei hidrografi Haixun 08 berbobot 7.500 ton, kapal penyelamat laut Haixun 06, serta kapal salvase Donghaijiu 113 yang masing-masing berbobot 5.000 ton.

Platform pemantau aktivitas penjaga pantai Tiongkok, Marine Equipment & Government Vessel Information, menyebut patroli tersebut menjadi operasi gabungan pertama antara otoritas maritim dan penjaga pantai Beijing di zona ekonomi eksklusif di timur Taiwan.

“Patroli ini akan semakin memperkuat kendali kami atas wilayah perairan tersebut,” tulis platform tersebut.

Sementara itu, harian Partai Komunis Tiongkok, People’s Daily, menuduh Jepang dan Filipina menjadi ‘sumber masalah’ yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.

Sejumlah analis menilai perundingan batas maritim antara Jepang dan Filipina dipandang Beijing sebagai tantangan langsung terhadap posisi Tiongkok terkait Taiwan. Ketegangan di kawasan pun berpotensi meningkat seiring aktivitas militer dan patroli maritim yang semakin intensif di sekitar pulau tersebut.

0 Komentar