INDEKS Dolar AS (DXY) di pasar uang New York melemah 0,3 persen ke level 99 pada perdagangan Kamis 28 Mei 2026 waktu setempat, memutus tren penguatan selama dua hari terakhir.
Pelemahan ini dipicu laporan mengenai potensi perpanjangan gencatan senjata 60 hari antara AS dan Iran yang membuka harapan meredanya konflik di Timur Tengah, termasuk kemungkinan normalisasi jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Meski sentimen geopolitik membaik, pelaku pasar masih berhati-hati karena sejumlah upaya damai dalam beberapa bulan terakhir belum berhasil mengakhiri konflik secara permanen. Kondisi ini membuat pergerakan Dolar AS tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter AS.
Melemahnya Dolar langsung dimanfaatkan mayoritas mata uang utama dunia.
Baca Juga:Marketplace Asing Bakal Wajib Punya Kantor Perwakilan di RI, Ini Kata MendagKemendiktisaintek Selidiki Dugaan Pemalsuan Riset 3 WNI di Konferensi Denmark
Euro menguat 0,20 persen terhadap Dolar AS menjadi 1,1649 Dolar AS, Franc Swiss menguat 0,37 persen hingga mendorong Dolar turun ke 0,784 Franc.
Yen Jepang turut terapresiasi 0,19 persen ke level 159,22 per Dolar AS setelah sebelumnya mendekati area psikologis 160 yang menjadi perhatian otoritas Jepang.
Dolar Australia juga naik 0,32 persen ke 0,71645 Dolar AS dan memperkuat posisinya sebagai mata uang G10 dengan performa terbaik sepanjang tahun ini.
Sementara itu, Dolar Selandia Baru melonjak 0,51 persen ke 0,59315 Dolar AS setelah bank sentralnya memberi sinyal kebijakan moneter yang tetap agresif.
Tekanan terhadap Dolar AS turut datang dari data ekonomi domestik. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 4,453 persen seiring melandainya inflasi inti PCE dan revisi turun pertumbuhan ekonomi AS kuartal pertama. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga kembali.
