PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan menjalani pemeriksaan medis rutin ketiganya dalam 13 bulan terakhir pada Selasa (26/5/2026) waktu setempat. Kunjungan ke Walter Reed National Military Medical Center ini dilakukan di tengah meningkatnya sorotan publik dan pertanyaan dari para ahli medis mengenai kondisi fisik serta mental sang presiden yang kini hampir menginjak usia 80 tahun.
Trump, yang tercatat sebagai presiden tertua yang pernah dilantik dalam sejarah AS, sebelumnya menjalani pemeriksaan fisik tahunan pada April 2025 dan tindak lanjut pada Oktober 2025. Meski Gedung Putih secara konsisten menyatakan bahwa Trump berada dalam kondisi kesehatan yang luar biasa, sejumlah dokter independen mulai menyuarakan keraguan atas transparansi laporan medis tersebut.
Sorotan pada Transparansi Medis
Kecurigaan para ahli medis dipicu oleh beberapa insiden sebelumnya. Pada pemeriksaan Oktober lalu, Gedung Putih sempat memberikan informasi yang simpang siur mengenai prosedur yang dijalani Trump. Baru tiga bulan kemudian diklarifikasi bahwa presiden menjalani pemindaian CT (CT Scan) untuk memastikan tidak ada masalah kardiovaskular.
Baca Juga:Luhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RIFatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas Mencuat
Jonathan Reiner, ahli kardiologi senior, menyatakan ada ketidakterbukaan dari pihak Gedung Putih.
“Gedung Putih tampaknya enggan mengakui ada gangguan fisik apa pun, padahal orang lanjut usia secara alami akan mengalami masalah medis,” ujarnya.
Beberapa tanda fisik yang menjadi perhatian para ahli antara lain:
- Memar yang berulang pada tangan presiden.
- Kondisi kaki yang terlihat membengkak (edema).
- Rasa kantuk yang sesekali terlihat di ruang publik.Gedung Putih berdalih bahwa memar tersebut disebabkan oleh penggunaan aspirin harian dan aktivitas bersalaman yang intens. Namun penjelasan ini dianggap tidak memadai oleh sejumlah praktisi medis.
Kesehatan sebagai Komoditas Politik
Isu kesehatan menjadi inti dari identitas politik Trump. Selama kampanye 2023 dan 2024, ia sering membanggakan vitalitasnya dan hasil tes kognitifnya untuk menyerang lawan politiknya. Namun, kini sebagai presiden yang menua, ia menghadapi tekanan yang sama seperti yang pernah dialami Joe Biden terkait kelayakan mental dan fisik untuk menjalankan tugas sebagai panglima tertinggi.
Data jajak pendapat terbaru dari Washington Post-ABC News-Ipsos menunjukkan penurunan kepercayaan publik. Hanya 40 persen warga Amerika yang percaya Trump memiliki ketajaman mental untuk menjabat, turun dari 47 persen pada September tahun lalu. Sementara itu, kepercayaan terhadap kesehatan fisiknya turun dari 54 persen menjadi 44 persen.
