Momen Menegangkan di Laut China Selatan: Kapal Taiwan dan China Saling Adang, Eskalasi Baru Dimulai?

Sebuah kapal patroli Penjaga Pantai Taiwan bergerak di dekat Keelung pada bulan Desember. Kapal-kapal dari Tai
Sebuah kapal patroli Penjaga Pantai Taiwan bergerak di dekat Keelung pada bulan Desember. Kapal-kapal dari Taiwan dan Cina terkunci dalam kebuntuan di dekat pulau-pulau Pratas di atas Laut Cina Selatan. (Reuters)
0 Komentar

TAIWAN dan China kembali bersitegang usai kapal coast guard masing-masing saling adang di dekat Pulau Pratas.

Coast guard Taiwan pada Minggu (25/5) melaporkan situasi tersebut terjadi selama dua hari terakhir di “perairan terlarang” Pratas, yang juga dikenal Pulau Dongsha.

“Kedua pihak terlibat konfrontasi verbal yang sengit mengenai kedaulatan lewat radio,” demikian pernyataan coast guard Taiwan, seperti dikutip AFP.

Baca Juga:Luhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RIFatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas Mencuat

Berdasarkan keterangan Taipei, seorang operator radio China memberi tahu kapal Taiwan, Taichung, bahwa kapal mereka, CCG-3501, sedang dalam misi patroli rutin dan meminta untuk tidak diganggu.

Kapal Taiwan lantas merespons dengan menyatakan, “Perilaku Anda justru membuktikan bahwa perdamaian China adalah tipuan, dan komunitas internasional tidak akan mendukung Anda.”

Hingga laporan tersebut dibuat, kapal Taichung masih saling adang dengan kapal CCG-3501.

Namun, beberapa jam setelah laporan tersebut, coast guard Taiwan melaporkan bahwa CCG-3501 telah keluar dari perairan sengketa.

Taipei menguasai Pratas, namun Beijing juga mengeklaim pulau tersebut. Beijing mengaku memiliki pulau tersebut bersama sebagian besar jalur perairan strategis di sana.

Pulau Pratas terletak di bagian utara Laut China Selatan.

Para pejabat keamanan Taiwan pada Sabtu (23/5) melaporkan bahwa China telah mengerahkan lebih dari 100 kapal angkatan laut, coast guard, dan kapal lainnya di perairan yang membentang dari Laut Kuning hingga Laut China Selatan dan Pasifik Barat.

Pengerahan ini dilakukan sebelum Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14 Mei lalu.

Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab

Trump telah menimbulkan kegelisahan di Taiwan karena menggunakan penjualan senjata AS ke Taipei sebagai alat tawar-menawar dengan China. China selama ini mengeklaim Taiwan bagian dari wilayahnya, dan mengancam akan merebutnya dengan kekerasan jika perlu.

Sejak saat itu, Taiwan pun bersikeras mempertahankan status quo dan menegaskan bahwa China merupakan akar penyebab ketidakstabilan di kawasan.

0 Komentar