WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai Darurat Global

Petugas kesehatan memakai pakaian pelindung saat bertugas di pusat perawatan Ebola di Beni, wilayah timur Demo
Petugas kesehatan memakai pakaian pelindung saat bertugas di pusat perawatan Ebola di Beni, wilayah timur Democratic Republic of the Congo, dalam wabah Ebola tahun 2019. Kongo kembali menghadapi lonjakan kasus Ebola yang memicu kekhawatiran penyebaran lintas negara di Afrika. (Foto: Jérôme Delay/AP Photo)
0 Komentar

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia atau public health emergency of international concern (PHEIC).

Dalam pernyataannya, WHO menyebut wabah Ebola akibat virus Bundibugyo di dua negara Afrika tersebut dinilai berisiko menyebar lintas negara sehingga memerlukan respons internasional yang terkoordinasi.

“Penyakit Ebola yang disebabkan virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo dan Uganda merupakan darurat kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia (PHEIC), tetapi belum memenuhi kriteria sebagai darurat pandemi,” demikian pernyataan WHO.

Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) pada Jumat melaporkan sedikitnya 13 kasus Ebola telah terkonfirmasi melalui uji laboratorium di Republik Demokratik Kongo, termasuk empat kematian.

Selain itu, sebanyak 246 kasus lain masih berstatus belum terkonfirmasi, sementara lembaga kesehatan setempat juga menyelidiki kemungkinan hubungan wabah dengan 65 kematian lainnya.

Di Uganda, pemerintah menetapkan status siaga tinggi menyusul meningkatnya kekhawatiran terhadap penyebaran virus tersebut.

WHO mengakui hingga kini jumlah pasti orang yang terinfeksi maupun cakupan penyebaran wabah masih belum diketahui secara pasti.

Pada akhir Januari lalu, WHO telah mengirim tim ahli ke Uganda untuk membantu penanganan wabah Ebola terbaru. Kemudian pada Februari, organisasi tersebut mengumumkan dimulainya uji coba vaksin Ebola pertama di Uganda.

Meski Kementerian Kesehatan Uganda sempat menyatakan wabah Ebola di negara itu berakhir pada akhir April, munculnya kembali kasus baru membuat otoritas kesehatan internasional meningkatkan kewaspadaan.

Status PHEIC sendiri merupakan deklarasi resmi WHO terhadap situasi darurat kesehatan yang dinilai memiliki risiko penyebaran global dan membutuhkan koordinasi internasional cepat.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Berdasarkan Peraturan Kesehatan Internasional 2005, seluruh negara anggota WHO memiliki kewajiban hukum untuk merespons secara cepat terhadap penetapan status PHEIC.

Apa Itu Virus Bundibugyo dan Seberapa Berbahaya?

Wabah terbaru di Republik Demokratik Kongo dan Uganda disebabkan oleh virus Ebola jenis Bundibugyo, salah satu strain Ebola yang lebih jarang dikenal publik dibanding strain Zaire Ebola yang selama ini paling mematikan. Virus Bundibugyo pertama kali terdeteksi di Uganda pada 2007 dan termasuk dalam keluarga virus Ebola yang dapat menyebabkan demam berdarah berat hingga kegagalan organ.

0 Komentar