JUMLAH korban tewas akibat wabah Ebola terbaru di Republik Demokratik Kongo (DRC) bertambah menjadi 80 orang, menurut data terbaru yang diumumkan Kementerian Kesehatan setempat pada Jumat, 15 Mei 2026.
Wabah tersebut terjadi di Provinsi Ituri, wilayah timur Kongo yang juga tengah dilanda krisis keamanan dan konflik bersenjata.
Menteri Kesehatan DRC Samuel Roger Kamba Mulamba mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium pada Kamis mengonfirmasi delapan kasus positif Ebola strain Bundibugyo di zona kesehatan Rwampara, Mongwalu, dan Bunia.
Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab
Hingga kini, otoritas kesehatan mencatat terdapat 246 kasus suspek terkait wabah tersebut.
Kasus pertama diduga berasal dari seorang perawat di Pusat Medis Evangelis Bunia yang meninggal setelah mengalami demam tinggi, pendarahan, muntah, dan kondisi tubuh melemah parah.
Pemerintah Kongo langsung mengaktifkan pusat operasi darurat kesehatan, memperkuat pengawasan epidemiologi dan laboratorium, serta mengerahkan tim respons cepat ke wilayah terdampak.
Sebelumnya di hari yang sama, Africa CDC melaporkan jumlah kematian akibat wabah tersebut masih berada di angka 65 jiwa.
Strain Zaire
Africa CDC kini menggelar koordinasi darurat bersama Kongo, Uganda, Sudan Selatan, dan sejumlah mitra internasional guna memperkuat pengawasan lintas batas dan respons wabah.
Sebagian besar kasus dan kematian dilaporkan terjadi di Mongwalu dan Rwampara, sementara kasus suspek juga mulai ditemukan di Bunia yang merupakan ibu kota Provinsi Ituri.
Temuan awal menunjukkan virus yang menyebar bukan berasal dari strain Zaire, yang selama ini menjadi penyebab utama wabah Ebola di Kongo.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Pakar virologi Kongo sekaligus penemu virus Ebola, Jean-Jacques Muyembe, mengatakan hampir seluruh dari 16 wabah sebelumnya di negara itu dipicu strain Zaire.
Munculnya strain Bundibugyo diperkirakan akan memperumit penanganan karena vaksin dan pengobatan yang tersedia saat ini dikembangkan khusus untuk strain Zaire.
Africa CDC memperingatkan risiko penyebaran lintas negara cukup tinggi karena wilayah terdampak berada dekat perbatasan Uganda dan Sudan Selatan serta memiliki mobilitas penduduk yang tinggi akibat aktivitas pertambangan.
Direktur Jenderal Africa CDC Jean Kaseya menegaskan koordinasi regional menjadi langkah krusial untuk menahan penyebaran wabah.Wabah ke-17
