Purbaya Sebut Data Ekonomi Indonesia Tunjukkan Perbaikan Signifikan: Saya Tidak Bohong, Bukan Data Abal-Abal

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
0 Komentar

MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi perekonomian dan fiskal Indonesia hingga akhir Mei 2026 berada dalam kondisi yang kuat. Ia membantah anggapan bahwa pemerintah menyampaikan gambaran ekonomi yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Menurut Purbaya, berbagai indikator ekonomi makro maupun kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menunjukkan tren yang positif. Hingga 31 Mei 2026, pendapatan negara mencapai Rp1.185 triliun atau 37,6% dari target APBN sebesar Rp3.153,6 triliun. Realisasi tersebut tumbuh 19,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, belanja negara terealisasi sebesar Rp1.365,4 triliun atau meningkat 34,4% secara tahunan. Di tengah percepatan belanja tersebut, defisit APBN tetap terjaga pada level Rp180,4 triliun atau setara 0,70% terhadap produk domestik bruto (PDB). Keseimbangan primer juga mencatat surplus sebesar Rp58,6 triliun.

Baca Juga:Amanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 JuniDraft Tak Resmi Rancangan Kesepakatan Iran-Amerika Serikat Bocor, Teheran Disebut Dapat Kendali Selat Hormuz

“Jadi, sebetulnya dari data itu kelihatan ekonomi meningkat signifikan. Enggak main-main, bukan saya bohong. Angka PDB bagus,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Mei 2026 di Jakarta, Jumat (5/6).

Ia menjelaskan, asumsi ekonomi makro pemerintah sejauh ini masih sejalan dengan realisasi di lapangan. Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,61%, lebih tinggi dari asumsi awal sebesar 5,4%. Sementara inflasi hingga Mei berada di level 3,08% dan nilai tukar rupiah secara year-to-date berada di kisaran Rp17.057 per dolar AS.

Purbaya menegaskan dirinya selalu mengutamakan penggunaan data yang akurat dalam merumuskan kebijakan ekonomi. Menurutnya, pembacaan data yang tepat penting agar pemerintah dapat mengambil langkah stimulus secara cepat apabila diperlukan.

“Jadi kepentingan saya melihat data yang akurat. Bukan data yang abal-abal,” ujarnya.

Dari sisi inflasi, Purbaya menilai kenaikan inflasi ke level 3,08% masih berada dalam rentang yang sehat dan terkendali. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh kelompok volatile food, khususnya harga cabai merah dan bawang merah yang terdampak cuaca ekstrem.

Meski demikian, ia menilai tekanan tersebut bersifat sementara dan berpotensi mereda ketika kondisi pasokan kembali normal.

“Jadi walaupun naik, ini masih di batas yang wajar,” kata Purbaya.

Baca Juga:Menkeu Amerika Serikat Umumkan Rampas Aset Kripto Iran Senilai Rp17,8 TriliunPulau Katang di Kepri Viral Dijual Rp65 Miliar, Pemerintah Buka Suara

Menurutnya, inflasi yang ideal bukanlah inflasi yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Pemerintah menargetkan inflasi berada dalam kisaran 1,5% hingga 3,5% agar tetap mendukung aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah akan terus mengendalikan pasokan pangan melalui penguatan cadangan pangan nasional, memberikan diskon tiket pesawat selama masa libur sekolah, serta memastikan harga BBM bersubsidi tetap terjangkau.

0 Komentar