Ratusan Kilometer Demi Damai, Bhikkhu Thudong Lintasi Jawa Timur Menuju Borobudur

Sekelompok biksu Buddha berjalan kaki mengikuti Pawai Perdamaian 2026 di Surabaya, Jumat (15/05/2026). (AFP/ J
Sekelompok biksu Buddha berjalan kaki mengikuti Pawai Perdamaian 2026 di Surabaya, Jumat (15/05/2026). (AFP/ Juni Kriswanto)
0 Komentar

DI bawah langit Banyuwangi yang baru saja terbangun, ketika kabut tipis masih memeluk kaki Gunung Ijen, sebuah pemandangan tak biasa membelah keheningan aspal jalanan. Sinar matahari pagi di ufuk timur Pulau Jawa mulai membiaskan cahaya keemasan, menyentuh permukaan jalan yang membentang di Kabupaten Banyuwangi.

Di kejauhan, sayup-sayup terdengar derap langkah kaki yang teratur dan tenang. Langkah-langkah itu tidak dibungkus oleh sepatu olahraga mahal, melainkan hanya beralaskan sandal tipis atau bahkan kaki telanjang yang telah akrab dengan panasnya aspal.

Ini bukan sekadar perjalanan fisik. Sebanyak 56 bhikkhu, terbalut jubah safron yang sewarna dengan fajar, melangkah dengan kepala tertunduk namun penuh keteguhan. Mereka sedang menjalani tradisi thudong, sebuah laku prihatin kuno dalam tradisi Buddha di mana para rahib berjalan kaki menempuh jarak ribuan kilometer.

Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab

Tahun ini, rute mereka dimulai dari ujung timur Jawa menuju Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, untuk merayakan detik-detik Waisak 2026.

Mengenakan jubah safron yang mencolok di antara kerumunan warga, para pemuka agama ini membawa misi yang jauh lebih besar daripada sekadar berpindah tempat. Mereka sedang menganyam benang-benang perdamaian, kesederhanaan, dan toleransi yang kian menguat di sepanjang jalur yang mereka lalui.

Dalam tradisi thudong, setiap jengkal langkah dianggap sebagai bentuk meditasi berjalan. Pikiran tidak melayang ke masa depan, kaki tidak menyesali masa lalu; mereka sepenuhnya hadir di sini, di atas aspal yang panas, di bawah tatapan ribuan pasang mata warga.

Perjalanan spiritual ini menjadi sebuah manifestasi dari latihan batin yang sangat mendalam. Setiap interaksi dengan warga di pinggir jalan—entah itu hanya lambaian tangan, senyuman, atau pemberian seteguk air—menjadi jembatan kemanusiaan yang melampaui batas-batas keyakinan. Ini adalah diplomasi yang pesannya sampai langsung ke hati masyarakat.

Banyuwangi Menyambut

Gema persiapan spiritual ini sebenarnya telah dimulai jauh hari sebelum raga para bhikkhu menyentuh tanah Bumi Blambangan. Di Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, atmosfer keguyuban telah mekar sejak akhir April. Tepatnya pada Selasa (28/4/2026), sebuah pertemuan penting digelar di kawasan Candi Manggala untuk merajut rencana penyambutan yang matang.

0 Komentar