Kepala Desa Yosomulyo, Joko Utomo Purniawan, duduk bersama tokoh agama Buddha terkemuka, Bhante Tejapunno Mahathera, guna memastikan setiap detail logistik dan keamanan terpenuhi. Sang Kepala Desa menyadari bahwa kedatangan rombongan bhikkhu thudong adalah momen langka yang membawa berkah spiritual sekaligus ujian bagi kesiapan warga dalam menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.
Dalam pertemuan koordinasi tersebut, dibahas secara rinci mengenai titik singgah, pengamanan jalur, hingga penyediaan logistik ringan oleh warga setempat. Joko menekankan bahwa seluruh rangkaian ini harus memberikan rasa nyaman bagi semua pihak.
“Kami bersama warga ingin memberikan sambutan terbaik. Ini bukan hanya agenda keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat nilai kebersamaan dan toleransi di tengah masyarakat,” ujar Joko saat memastikan kesiapan warganya.
Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab
Baginya, keterlibatan masyarakat lintas agama dalam persiapan ini merupakan bukti nyata bahwa keberagaman di Banyuwangi adalah sebuah kekuatan. Seluruh elemen desa, mulai dari perangkat pemerintahan hingga relawan lintas iman, bahu-membahu memastikan keamanan rombongan.
Puncak suasana haru pecah ketika rombongan 56 bhikkhu benar-benar memasuki wilayah jantung Kabupaten Banyuwangi. Pada Senin (11/5/2026), rombongan tiba di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Tik Liong Tian, Rogojampi.
Kawasan tersebut berubah menjadi lautan manusia. Ribuan warga memadati pinggir jalan untuk menanti kehadiran para pejalan spiritual yang wajahnya memancarkan ketenangan, meski telah terpapar panas matahari selama berhari-hari.
Penyambutan dilakukan dengan standar penghormatan tinggi, namun tetap bersahaja. Menariknya, tradisi lokal turut menyapa. Bunyi tetabuhan barongsai yang rancak menciptakan perpaduan budaya yang sangat estetis, menunjukkan betapa cairnya asimilasi budaya di Tanah Jawa.
Momen paling menyentuh terjadi saat prosesi pencucian kaki dimulai. Warga dengan takzim membasuh kaki para bhikkhu sebagai simbol penghormatan, diiringi taburan bunga harum. Air yang membasuh debu-debu jalanan dari kaki para rahib itu seolah menjadi simbol pembersihan ego bagi siapa pun yang menyaksikannya.
Dalam kesempatan nan sakral itu, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, hadir di tengah kerumunan. Kehadirannya memberikan penegasan bahwa pemerintah daerah mendukung penuh nilai-nilai positif yang dibawa rombongan ini.
