Ratusan Kilometer Demi Damai, Bhikkhu Thudong Lintasi Jawa Timur Menuju Borobudur

Sekelompok biksu Buddha berjalan kaki mengikuti Pawai Perdamaian 2026 di Surabaya, Jumat (15/05/2026). (AFP/ J
Sekelompok biksu Buddha berjalan kaki mengikuti Pawai Perdamaian 2026 di Surabaya, Jumat (15/05/2026). (AFP/ Juni Kriswanto)
0 Komentar

Bupati Ipuk secara langsung menyampaikan rasa hormatnya atas keteguhan para bhikkhu dalam menjalani disiplin thudong yang sangat berat.

“Perjalanan para biksu ini bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang membawa pesan perdamaian, toleransi, dan kesederhanaan. Kami merasa terhormat Banyuwangi menjadi bagian dari perjalanan ini,” tutur Bupati Ipuk.

Ketulusan Warga, Kerendahan Hati Para Bhikku

Bupati Ipuk melihat bahwa laku berjalan kaki dengan perlengkapan seadanya dan hidup dari derma masyarakat adalah pelajaran berharga tentang pengendalian diri bagi semua orang di tengah dunia yang serba instan.

Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab

Secara kronologis, perjalanan ini memang dilakukan dengan disiplin spiritual yang ketat. Para bhikkhu memulai hari dengan meditasi sebelum melangkah saat fajar menyingsing. Selama di Banyuwangi, mereka mempraktikkan tradisi menerima sedekah makanan dan minuman dari warga tanpa memandang latar belakang agama, sebuah praktik yang dalam ajaran Buddha disebut sebagai pindapata.

Warga dari berbagai latar belakang (Islam, Kristen, Hindu, dan kepercayaan lainnya) tampak berdiri di pinggir jalan menyodorkan air mineral ataupun buah-buahan. Para Bhikkhu menerimanya dengan senyum tipis dan doa singkat.

Ketulusan warga dalam memberi dan kerendahan hati para Bhikkhu dalam menerima menjadi pemandangan yang menginspirasi. Di sini, tidak ada perdebatan teologis—yang ada hanyalah tangan yang memberi dan tangan yang menerima dalam harmoni yang sempurna.

Mewakili para Bhikkhu, Bhante Tejapunno Mahathera sendiri menyampaikan rasa harunya atas dukungan yang begitu hangat dari masyarakat. Beliau menekankan bahwa energi positif yang terpancar dari kerukunan warga menjadi tambahan kekuatan bagi para bhikkhu yang menjalani laku prihatin tersebut.

“Semangat kebersamaan seperti ini sangat berarti. Perjalanan thudong bukan hanya soal menempuh jarak, tetapi juga menyebarkan pesan kedamaian dan welas asih,” ungkapnya.

Setelah beristirahat dan memulihkan tenaga di Rogojampi, rombongan bhikku dijadwalkan melanjutkan perjalanan panjang mereka menuju barat. Candi Manggala dan TITD Tik Liong Tian telah menjadi saksi bisu bagaimana doa-doa lintas agama dipanjatkan demi keselamatan rombongan.

Tujuan akhir mereka, Candi Borobudur, masih ratusan kilometer jauhnya. Namun bagi mereka, setiap kilometer yang dilewati adalah proses pembersihan batin dari ego duniawi. Setiap debu yang menempel di jubah mereka adalah pengingat akan kefanaan, sementara setiap sapaan warga adalah pengingat akan persaudaraan universal.

0 Komentar