DI balik konsistensi pemerintah China di bawah Presiden Xi Jinping dalam memberantas korupsi, terselip dugaan kepentingan politik. Kampanye antikorupsi disebut-sebut juga dimanfaatkan untuk menyingkirkan lawan-lawan politik.
Sorotan terbaru tertuju pada dua mantan Menteri Pertahanan China, Wei Fenghe dan Li Shangfu, yang dijatuhi hukuman mati.
Dikutip dari kantor berita Xinhua, pengadilan militer China menjatuhkan vonis tersebut pada Kamis (7/5), dengan masa penangguhan selama dua tahun.
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
Artinya, hukuman mati itu akan dikonversi menjadi penjara seumur hidup setelah dua tahun, tanpa kemungkinan pengurangan hukuman maupun pembebasan bersyarat.
Selain itu, pengadilan juga memerintahkan penyitaan seluruh aset pribadi keduanya. Pemerintah China tampak ingin menjatuhkan sanksi maksimal, termasuk memiskinkan para terpidana korupsi.
Vonis ini muncul di tengah gelombang pencopotan sejumlah tokoh militer senior, seiring penerapan tindakan keras terhadap praktik korupsi di tubuh militer.
Terseret Kasus Suap
Wei Fenghe menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada 2018–2023, sebelum digantikan Li Shangfu pada Maret 2023.
Namun, masa jabatan Li terbilang singkat. Ia diberhentikan pada Oktober 2023 dan kemudian menghilang dari sorotan publik, memicu berbagai spekulasi.
Li diduga menerima suap dalam jumlah besar serta menyuap pihak lain. Hasil penyelidikan menyebut ia “tidak memenuhi tanggung jawab politik” dan “mencari keuntungan pribadi dan kelompok”.
Sementara itu, penyelidikan terhadap Wei yang dimulai pada 2023 menyebut ia menerima suap berupa uang dalam jumlah besar serta berbagai barang berharga.
Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?
Atas praktik tersebut, Wei dinilai membantu pihak lain memperoleh keuntungan tidak sah dalam pengaturan personel militer.
Pada Februari lalu, Xi Jinping kembali menegaskan komitmen pemberantasan korupsi di tubuh militer. Tak lama berselang, seorang jenderal senior, Zhang Youxia, juga dicopot dari jabatannya.
Xi menyebut militer telah mengalami “penempaan revolusioner” dalam upaya memerangi korupsi.
Sejak berkuasa, Xi memang menggencarkan kampanye antikorupsi besar-besaran. Namun, sejumlah pengamat menilai langkah tersebut juga kerap digunakan untuk membersihkan lawan politik.
Pola Berulang
Sejak menjabat presiden pada 2013, Xi Jinping melembagakan kampanye antikorupsi yang menjangkau berbagai level pejabat, termasuk elite militer.
