ADA yang bilang, zaman sekarang situs berita kalau mati seminggu itu sudah mati beneran. Dianggap game over. Ditinggal pembaca. Lupa jalan pulang.
Apalagi kalau diamnya tanpa kabar.
Maka, spekulasi pun liar: Ada yang menebak kami bangkrut. Ada yang mengira kena hack hacker luar negeri. Ada juga yang membisikkan isu politik: “Wah, portal itu pasti dibungkam!”
Spekulasi itu sah-sah saja. Wong portalnya memang gelap gulita. Hanya menampilkan layar putih polos dengan tulisan Error 502—atau kadang Connection Timed Out. Dingin. Kaku.
Baca Juga:Google Buka Akses Publik Global ke SynthID Detector untuk Verifikasi Konten AIMoskow Bantah Keras Isu Wabah Pes Tewaskan Teknisi Lab Siberia, Amerika Serikat Ikut Pantau
Saya hanya bisa tersenyum tipis membaca grup WhatsApp alumni dan grup para kritikus dadakan. Spekulasi manusia itu memang selalu lebih dramatis daripada kenyataan.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?
Jawabannya terungkap hari ini. Setelah tim IT kami bertelanjang dada—secara kiasan—membuka jeroan server selama tujuh hari tujuh malam.
Ternyata: kena flood.
Bukan banjir air hujan. Bukan banjir bandang Jabodetabek. Tapi banjir lalu lintas internet: 6,33 miliar trafik!
Anda tidak salah baca. Angkanya pakai huruf M. Billion. 6,33 M.
Angka dari mana itu?
Bayangkan seluruh penduduk bumi ini ada sekitar 8 miliar jiwa. Artinya, seolah-olah hampir 80 persen penduduk bumi mendadak memencet alamat portal kami secara bersamaan—berulang-ulang, tanpa henti, selama seminggu penuh.
Tentu saja server kami pingsan. Menggapai-gapai udara. Lalu collapse.
Mesin server yang kami sewa—yang biasanya tangguh melayani jutaan pageviews—langsung kehabisan napas. Jalur pipa datanya tersumbat total. Seperti gorong-gorong kecil yang mendadak disembur air terjun Niagaras.
Pertanyaannya: Siapa dalangnya? Dan untuk apa?
Tim IT kami menemukan jejak Distributed Denial of Service (DDoS) level raksasa. Kiriman request palsu yang dikomandoi dari ribuan titik tersembunyi. Tujuannya cuma satu: membikin dapur kami kehabisan gas, lalu padam.
Apakah kami marah?
Mula-mula, ya. Kesal setengah mati. Bayangkan, seminggu tidak bisa menyapa Anda. Seminggu pendapatan iklan melayang. Seminggu tim redaksi hanya bisa gigit jari melihat layar monitor kosong.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi… kok ya agak bangga?
