MENTERI Keuangan Suahasil Nazara menyoroti kondisi geopolitik global yang tengah memanas, termasuk langkah Amerika Serikat (AS) yang disebut ingin menguasai Selat Hormuz dan menyerang negara lain.
Menurutnya, dinamika geopolitik dunia tersebut tidak bisa dipisahkan dari kebijakan fiskal yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia.
Suahasil menyampaikan hal tersebut dalam acara Investor Daily Summit 2026 di Hotel Raffles, Jakarta Selatan, Kamis (8/10/2026). Ia menjelaskan bahwa ketegangan antarnegara turut mempengaruhi perdagangan internasional serta pergerakan harga komoditas global.
Baca Juga:Moskow Bantah Keras Isu Wabah Pes Tewaskan Teknisi Lab Siberia, Amerika Serikat Ikut PantauTerungkap Gibran Hanya Serahkan Data Kehadiran dan Transkrip Nilai, Bukan Ijazah
“Nah, yang seru hari-hari ini adalah dunia kita ini lagi seru geopolitik. Amerika punya tujuannya sendiri ingin menguasai Selat Hormuz, menyerang negara lain. Di belahan dunia yang lain juga melihat di Eropa juga masih terus terjadi ketegangan,” ujar Suahasil.
Ketegangan geopolitik tersebut mendorong terjadinya fragmentasi perdagangan dunia. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena setiap negara masih memiliki ketergantungan terhadap barang dan jasa dari negara lain.
Ekonomi Indonesia Relatif Kuat
Di tengah tekanan ekonomi global, Suahasil menilai bahwa kondisi perekonomian dan fiskal Indonesia masih berada di posisi yang relatif kuat jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II yang mencapai 5,29%.
- Angka pertumbuhan tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan negara-negara anggota G20 lainnya, dengan pengecualian India.
- Tingkat inflasi di Indonesia berada di kisaran 3,28%, yang dinilai berada di posisi tengah-tengah.
Dampak ke Harga BBM dan APBN
Meskipun Indonesia berupaya memenuhi kebutuhan dalam negeri secara mandiri, ketergantungan pada perdagangan internasional membuat perekonomian nasional tetap rentan terhadap perubahan harga di pasar global. Salah satu dampak nyata dari ketegangan global ini terlihat dari kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi memengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Untuk melindungi daya beli masyarakat dan menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan, pemerintah memutuskan untuk tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi.
Kebijakan tersebut tentu membawa konsekuensi terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Selisih harga yang timbul akibat kenaikan harga minyak dunia harus ditanggung oleh negara melalui anggaran subsidi.
