PENGAMAT politik dan ekonomi, Heru Subagia, melontarkan analisis tajam yang menilai rangkaian kebijakan perombakan kabinet (reshuffle) jilid ke-7 pada 1 Oktober 2026 serta pelantikan massal 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) sehari berselang terus memicu diskursus publik.
“Peristiwa tersebut sebagai bentuk kompromi kekuasaan dan transaksi politik transaksional. membedah secara telak konstelasi kekuasaan di balik perombakan kabinet (reshuffle) jilid ke-7 pada 1 Oktober 2026 dan pelantikan besar-besaran 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) sehari berselang,” dikutip dari keterangan tertulisnya, Minggu (4/10).
Dalam pandangan Heru dinamika ini tidak bisa dilepaskan dari gestur politik Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan (Zulhas), saat perayaan HUT ke-28 PAN di JCC pertengahan September lalu, yang mendeklarasikan dukungan penuh dua periode untuk Presiden Prabowo Subianto—bukan sekadar banyolan, melainkan kalkulasi transaksional tingkat tinggi.
Berikut adalah pokok-pokok analisis dari dinamika politik tersebut:
Transaksi Politik di Balik Candaan Podium Zulhas
Baca Juga:Terungkap Gibran Hanya Serahkan Data Kehadiran dan Transkrip Nilai, Bukan IjazahSiapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMM
Zulhas dinilai sangat piawai memanfaatkan panggung untuk mengamankan posisi partainya. Dengan memberikan garansi kesetiaan mutlak dan menutup peluang pencapresan lain untuk 2029 demi memuluskan jalan dua periode bagi Prabowo, PAN (bersama Golkar) berhasil memanen konsesi kekuasaan yang sangat besar. Di sisi lain, Zulhas juga dinilai cerdik mengisolasi kekuatan politik lain seperti PKB dengan menjadikannya sasaran tembak di panggung politik.
Sindiran “Bokek” yang Dibayar Lunas dengan Kekuasaan
Publik sempat dihebohkan oleh guyonan blak-blakan Presiden Prabowo yang menyinggung kondisi keuangan PAN yang sedang tiris dan masih menanggung utang saat acara puncak HUT partai.
Kendati ledekan tersebut menohok harga diri partai, bagi politisi pragmatis, kompensasi portofolio kekuasaan jauh lebih bernilai. “Penghinaan” finansial tersebut pada akhirnya dibayar tunai melalui penempatan kader-kader utama PAN di pos strategis pemerintahan.
Panen Raya Golkar dan PAN di Ring Satu Istana
Dominasi Golkar dan PAN terlihat sangat kasat mata dalam pembagian jatah kursi strategis pasca-reshuffle dan pelantikan Wantimpres:
- Bahlil Lahadalia (Golkar): Mendapatkan posisi strategis sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi untuk mengontrol penuh regulasi sumber daya alam.
- Bambang Soesatyo (Golkar): Dilantik sebagai anggota Wantimpres, mengamankan faksi senior partai di ring satu istana.
- Dr. Dradjad Hari Wibowo (PAN): Ekonom senior dan eks Dewan Pakar TKN yang dipasang sebagai Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian untuk mengawal langsung kebijakan makroekonomi.
- Hatta Rajasa (PAN): Mantan Ketua Umum PAN yang ditunjuk sebagai Wakil Ketua Wantimpres, menduduki posisi nomor dua di lembaga penasihat presiden tersebut.
