Dampak Politik dan Hukum di Amerika Serikat
Upaya jangka panjang untuk mendiskreditkan kelompok Muslim Amerika ini mulai membuahkan tekanan politik yang nyata. Pada Agustus 2026, sebuah subkomite Senat AS menggelar sidang bertajuk “Hidden in Plain Sight: Confronting the Muslim Brotherhood Network in America”, di mana para saksi secara terbuka mengutip karya Vidino untuk mendesak penjatuhan sanksi hukum dan finansial terhadap organisasi seperti CAIR.
Tidak hanya di tingkat federal, sejumlah kepala daerah tingkat negara bagian—seperti Gubernur Texas Greg Abbott dan Gubernur Florida Ron DeSantis—juga mengeluarkan proklamasi kontroversial yang menetapkan Ikhwanul Muslimin dan CAIR sebagai organisasi teroris pada akhir 2025 hingga September 2026. Langkah tersebut bahkan mencakup kebijakan pembekuan aset serta pelarangan kepemilikan tanah.
Reaksi Keras Tokoh Muslim Amerika
Para aktivis dan pimpinan organisasi Muslim yang namanya dicatut dalam dokumen bocor tersebut mengecam keras kampanye hitam ini. Presiden MPAC, Salam Al-Marayati, menilai taktik tersebut sebagai bentuk keputusasaan politik pihak tertentu untuk melakukan marginalisasi.
Baca Juga:Terungkap Gibran Hanya Serahkan Data Kehadiran dan Transkrip Nilai, Bukan IjazahSiapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMM
“Jika mereka tidak bisa memenangkan argumen, reaksi mereka ialah menuduh kami sebagai ‘serigala berbulu domba’ atau ‘kuda Troya’,” ujar Salam.
Sementara itu, Osama Abu Irshaid dari lembaga American Muslims for Palestine menegaskan bahwa UEA memainkan peran destruktif karena merasa terancam oleh aspirasi kebebasan dan integrasi komunitas Muslim di Dunia Barat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Lorenzo Vidino, manajemen Alp Services, maupun Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab memilih bungkam dan belum memberikan tanggapan resmi atas bocornya dokumen investigasi tersebut.
