Malam Itu, Pagi Itu

Bondhan W
Bondhan W
0 Komentar

TANGGAL 30 September selalu terasa sunyi. Tanggal 1 Oktober selalu terasa ramai: upacara, bendera setengah tiang, pidato.

Padahal keduanya satu cerita yang tidak bisa dipisah. Malam yang sunyi itu, pagi yang gaduh itu.

Mari mulai dari Jakarta, malam 30 September 1965. Tidak ada tanda-tanda apa pun. Orang tidur, anjing menggonggong, radio sudah mati. Di sebuah rumah di Menteng, seorang jenderal bintang tiga yang juga Menteri Koordinator Pertahanan sedang tidak tahu bahwa beberapa jam lagi hidupnya ditentukan oleh sebuah pintu.

Baca Juga:Siapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMMKantor dan Rumah Jabatan Bupati Gowa Digeledah Kortas Tipidkor Polri Terkait Dugaan Korupsi Perizinan PBG

Pukul tiga dini hari, pasukan bergerak. Pasukan itu sebagian dari Cakrabirawa, pengawal presiden. Artinya, yang menjemput adalah orang-orang yang seharusnya menjaga. Pemimpinnya Letkol Untung.

Enam jenderal diambil. Ahmad Yani, MT Haryono, S. Parman, D.I. Panjaitan, Sutoyo, Soeprapto. Ada yang ditembak di rumah, ada yang dibawa hidup-hidup. Ke mana? Ke sebuah tempat bernama Lubang Buaya. Nama yang bagi anak sekolah zaman itu terdengar seperti dongeng. Ternyata bukan.

Yang ketujuh Anda mungkin sudah tahu: Nasution. Beliau lolos, melompati tembok. Tapi putrinya, Ade Irma Suryani, yang baru lima tahun, tertembak. Sasaran meleset, korban jatuh pada yang paling tidak bersalah.

Lalu ada Pierre Tendean. Ajudan muda. Ia dibawa karena disangka Nasution. Konon ia tidak membantah, justru mengaku. Entah benar atau legenda, yang pasti ia tidak pulang.

Pagi 1 Oktober, RRI bersiaran. Diumumkan ada gerakan untuk menyelamatkan Presiden dari “Dewan Jenderal”. Dibentuk pula Dewan Revolusi. Orang Jakarta yang bangun pagi, menyalakan radio, mungkin mengira sedang mendengar sandiwara.

Bukan sandiwara. Di sinilah sejarah berbelok.

Yang bergerak cepat justru Mayor Jenderal Soeharto, Panglima Kostrad, yang saat itu bukan siapa-siapa dalam daftar yang dicari. Ia mengambil alih komando Angkatan Darat. Sore hari, Kostrad menguasai kembali RRI dan Lapangan Merdeka. Malamnya, gerakan itu sudah praktis padam di Jakarta. Satu hari. Hanya satu hari.

Tapi satu hari itu ternyata baru pembukaan.

Sesudahnya datang bulan-bulan yang lebih gelap dari malam Lubang Buaya. Pembersihan terhadap orang-orang yang dianggap PKI, dari Jawa, Bali, sampai Sumatera. Berapa korbannya? Angkanya beda-beda: dari ratusan ribu sampai lebih dari sssejuta. Tidak ada yang bisa memastikan. Banyak yang mati tanpa pengadilan, tanpa nama, tanpa kuburan yang diketahui.

0 Komentar