Malam Itu, Pagi Itu

Bondhan W
Bondhan W
0 Komentar

Dan di situlah kita sering berhenti bicara. Setiap tahun kita mengenang tujuh orang di Lubang Buaya, dan itu benar, mereka patut dikenang. Tapi di tanah yang sama ada ratusan ribu lain yang tidak pernah punya monumen.

Siapa dalangnya? Tiga puluh tahun lebih pertanyaan ini diajarkan dengan satu jawaban. Setelah itu, orang mulai berani bertanya. PKI? Konflik internal Angkatan Darat? Soekarno? Soeharto? Campur tangan asing? Para sejarawan sampai sekarang belum sepakat. Anda boleh memilih bacaan sendiri. Saya sendiri hanya yakin satu hal: sejarah yang tidak boleh ditanya akan selalu menyimpan hantu.

Maka tiap 1 Oktober, saya ingin mengenang dua hal sekaligus. Yang gugur di Lubang Buaya. Dan yang hilang sesudahnya.

Dua-duanya manusia. Dua-duanya punya anak yang menunggu di rumah.

Baca Juga:Siapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMMKantor dan Rumah Jabatan Bupati Gowa Digeledah Kortas Tipidkor Polri Terkait Dugaan Korupsi Perizinan PBG

Mungkin itu pelajaran paling sederhana dari tanggal ini. Sederhana, tapi paling sulit dijalankan.

Penulis: Bondhan W

0 Komentar