Krisis Air Bersih Melanda Lebih dari 1 Juta Warga Jawa Barat bukan El Nino, tapi Akibat Ulah Manusia

(Dok. Istimewa/DSDA Jabar)
(Dok. Istimewa/DSDA Jabar)
0 Komentar

KRISIS air bersih akibat kekeringan ekstrem meluas di Provinsi Jawa Barat hingga berdampak pada lebih dari satu juta jiwa.

Meski kerap dikaitkan dengan kemarau panjang atau fenomena iklim global, pakar menegaskan bahwa pemicu utama parahnya bencana tahunan ini berakar pada kerusakan mendasar sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) akibat alih fungsi lahan yang masif.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, sebanyak 1.018.922 jiwa dari 307.295 Kepala Keluarga (KK) kini mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih harian. Dampak krisis tersebar di 688 desa/kelurahan di 247 kecamatan di seluruh wilayah Jawa Barat.

Kabupaten Bogor Wilayah Terparah, Bekasi Minta Pasokan Terbanyak

Baca Juga:Siapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMMKantor dan Rumah Jabatan Bupati Gowa Digeledah Kortas Tipidkor Polri Terkait Dugaan Korupsi Perizinan PBG

Secara mengejutkan, wilayah penyangga dengan intensitas curah hujan tinggi seperti Kabupaten Bogor mencatatkan status kekeringan terburuk, di mana sebanyak 326.445 jiwa (95.310 KK) terdampak krisis air. Wilayah terparah berikutnya disusul oleh Kabupaten Purwakarta (99.525 jiwa terdampak) dan Kabupaten Bekasi (93.236 jiwa terdampak). Krisis serupa juga meluas hingga ke Priangan Timur, meliputi Kabupaten Tasikmalaya (76.929 jiwa) dan Kota Tasikmalaya (55.782 jiwa).

Guna merespons situasi darurat ini, pemerintah telah menyalurkan bantuan air bersih dengan total akumulasi mencapai 27,63 juta liter. Kabupaten Bekasi menjadi penerima bantuan terbanyak dengan alokasi 11,27 juta liter, disusul Kabupaten Bogor sebanyak 5,5 juta liter. Dari seluruh wilayah administrasi di Jabar, hanya Kabupaten Kuningan yang hingga saat ini tidak melaporkan adanya krisis air.

Pakar UGM: Kerusakan DAS Akibat Ulah Manusia

Pakar Hidrologi Hutan dan Pengelolaan DAS dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Hatma Suryatmojo, menjelaskan bahwa kekeringan masif ini disebabkan oleh hilangnya daya dukung lingkungan di area hulu DAS akibat alih fungsi lahan yang berlebihan oleh manusia.

Hatma memaparkan, area hulu pegunungan yang seharusnya berfungsi sebagai vegetasi penangkap dan penyimpan cadangan air tanah kini banyak berubah menjadi kawasan permukiman, area komersial, hingga beton infrastruktur.

“Saat musim kemarau berlangsung, cadangan air tanah inilah yang secara alami akan dilepaskan sedikit demi sedikit untuk mengisi debit mata air, sumur warga, dan aliran sungai,” ujar Hatma, sebagaimana dilansir dari laman resmi UGM.

0 Komentar